Motif Mahasiswa Australia Studi Bahasa Indonesia: Sejarah hingga Belanja

Jelajah Australia

Motif Mahasiswa Australia Studi Bahasa Indonesia: Sejarah hingga Belanja

Nograhany Widhi K - detikNews
Selasa, 01 Des 2015 11:53 WIB
Motif Mahasiswa Australia Studi Bahasa Indonesia: Sejarah hingga Belanja
Mahasiswa Australia belajar bahasa Indonesia melalui permainan peran tawar menawar Foto: Nograhany WK
Melbourne - Banyak motif mahasiswa Australia belajar bahasa Indonesia. Dari ingin belajar sejarah Indonesia hingga supaya bisa luwes berbelanja.

"Karena saya tertarik dengan kebudayaan Indonesia. Saya sudah ke Indonesia 5 kali, saya ingin belajar sejarah, dan mengapa Australia dan Indonesia berhubungan, dengan cara apa," demikian jelas Jessie.

Jessie ditemui detikcom dan RCTI -yang ke Australia atas undangan Australia Plus ABC International- di salah satu sesi program "Language Exchange" bahasa Indonesia yang diselenggarakan oleh Australia-Indonesia Youth Association (AIYA) di kampus Royal Melbourne Institute of Technology (RMIT), Melbourne, Victoria pada September 2015 lalu. Dalam program ini, mahasiswa Australia bisa belajar bahasa Indonesia dibantu oleh mahasiswa Indonesia yang berkuliah di Melbourne.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Dibanding anak-anak SD-SMA Australia yang belajar melalui kurikulum di sekolah, di tingkatan mahasiswa ini, para mahasiswa bisa belajar dengan mandiri dengan langsung 'nyemplung' bercakap-cakap dengan rekan-rekannya dari Indonesia. Tiap pekan, ada satu topik yang ditentukan untuk menjadi bahan diskusi dan percakapan. Malam itu, mereka belajar tawar menawar di pasar juga berdiskusi mengenai sistem jaminan kesehatan dan sosial di Indonesia.

Jessie (Foto: Nograhany WK)


"Kesulitan saya untuk bercakap-cakap," imbuh Jessie mengenai kendalanya belajar bahasa Indonesia.

Lain lagi dengan Edward Stephens. Mahasiswa master jurusan jurnalistik di RMIT ini belajar bahasa Indonesia karena budaya dan orang-orangnya, juga supaya lebih luwes berbelanja.

"Aku pikir Indonesia salah satu negara yang luar biasa, banyak orang baik hati, makanan luar biasa. Dan juga, itu sangat bagus buat liburan yang murah. Jadi aku belajar bahasa Indonesia, menawar lebih mudah dan harga di pasar di Bali lebih murah juga," celetuk Eddy, panggilannya, sontak membuat rekan-rekannya tertawa.

Pria yang pernah menjadi kontributor media ternama di Indonesia ini mengaku sudah beberapa kali praktik tawar menawar. Dia lantas mengungkapkan pengalamannya pernah membeli suvenir dengan harga kemahalan di Bali.

"Jadi aku belajar bahasa Indonesia, menawar lebih mudah," kata Eddy (Foto: Nograhany WK)


"Dulu aku di Jalan Popies di Kuta, banyak penjual yang jualin kaos, kemeja dan celana pendek dan sangat mahal. Sesudah belajar bahasa Indonesia harganya lebih murah," tutur penulis lepas yang sudah belajar bahasa Indonesia sejak 4 tahun lalu itu.



Sedangkan Clarice, mahasiswa Australia yang juga seorang aktivis AIYA mengatakan minat rekan-rekannya belajar bahasa Indonesia cukup tinggi. Kelas bahasa Indonesia juga diadakan AIYA di beberapa kampus di Melbourne.

Clarice (Foto: Nograhany WK)


"Language Exchange AIYA Victoria dimulai 2012 ya itu organisasi yang baru. Minat teman-teman di sini banyak belajar bahasa Indonesia kebanyakan orang Australia di sini belajar di SMA atau di universitas. Saya kurang tahu pasti berapa anggotanya biasanya 20-30 orang yang masuk language exchange 1 kali seminggu pada Rabu di RMIT dan di Monash ada kelas berbahasa Indonesia pada Selasa," tutur Clarice.

Clarice mengatakan AIYA adalah organisasi wadah pemuda Indonesia dan Australia yang tersebar di seluruh Australia seperti Victoria, New South Wales dan Queensland. Sedangkan di Indonesia, ada di Jakarta dan Yogyakarta.

Baca terus fokusΒ Jelajah Australia, dan ikutiΒ Hidden Quiz-nya!
Halaman 2 dari 1
(nwk/nrl)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads