Tips WNI Petinggi Start Up Global di Sydney untuk Mulai Bisnis Start Up

Jelajah Australia

Tips WNI Petinggi Start Up Global di Sydney untuk Mulai Bisnis Start Up

Nograhany Widhi Koesmawardhani - detikNews
Senin, 30 Nov 2015 11:23 WIB
Tips WNI Petinggi Start Up Global di Sydney untuk Mulai Bisnis Start Up
Vice President of Growth freelancer.com Willix Halim (Foto: Nograhany WK/detikcom)
Sydney - Willix Halim, WNI yang menjadi Vice President of Growth freelancer.com yang berbasis di Sydney memberikan tips pada anak muda Indonesia bila memulai bisnis start up. Seperti apa?

"Jadi freelancer.com itu selalu mikir market, mau buat start up harus selalu lihat marketnya itu sebesar apa. Milih market yang paling besar," ujar Willix kala diwawancara detikcom dan RCTI di kantornya, Ernst and Young Tower Sydney, New South Wales, Australia, pada September 2015 lalu atas undangan Australia Plus ABC International.

Kedua, imbuhnya, pilih co-founder selalu. Willix mewanti-wanti agar jangan mulai bisnis sendirian.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Selalu pilih partner basicnya 2 atau 3 orang, biar susah sama-sama susah dan support each other," imbuh sarjana bidang robotika dari Universitas Melbourne ini.

Untuk partner pendiri, Willix mengatakan maksimal 3 orang yang paling efektif.

"Dua orang oke, kalau tiga, satu orang nggak setuju, dua orang bisa setuju. Jadi nggak stuck gitu untuk decision make-nya. Kalau empat, ada yang nggak berpartisispasi. Tiga itu paling cocok. Kalau empat itu dependen sama orang lain lebih besar," tuturnya.

Ketiga, harus punya passion.

"Di freelancer, saya dan CEO kerjanya sampai 14-15 jam per hari. Harus work hard supaya bisa achieve jadi succesfull start up," imbuh pria kelahiran Medan, Sumatera Utara, 27 tahun lalu ini.

Untuk bisnis pemula, memang yang paling bagus menurutnya adalah start up di bidang internet. Untuk mengujinya, Willix menyarankan disebarkan melalui sosial media.

"Kalau sekarang internet start up paling bagus, beberapa start up punya billion-an user hanya dalam beberapa bulan dan tahun. Kalau internet start up itu lebih gampang, mau tes, taruh di FB dan Google, trus tiba-tiba bisa loncat usernya [hockey-stick], jadi modal itu bukan yang utama," jelas dia.

Menekankan bahwa "modal bukan yang utama", Willix menambahkan start up internet itu biayanya murah. Yang penting, bagaimana pengguna bisa menggunakannya berulang-ulang.

"Kalau nggak punya modal juga bisa ke VC, Venture Capital kasih uang, inexchange for some equity of the company. Dipakai buat bertumbuh company. Tapi kalau start up kebanyakan juga ada yang boot-strap, maksudnya nggak usah cari uang, jadi modalnya sedikit doang," jelas dia.

Seperti itu juga yang dilakukan oleh freelancer.com. Saat mendirikan freelancer.com, pendiri tidak memulai dari awal melainkan membeli perusahaan kecil dengan modal sekitar Rp 30 miliar. Sekarang, nilai valuasi perusahaannya sudah mencapai Rp 7 triliun.

"We never know untill you try, jadi kalau punya ide, try aja. Usia 20-40 it's your time to try, to experiment, buat aja, coba aja, kalau nggak dicoba siapa yang tahu bisa sukses atau nggak. Sekarang paling gampang, 3 bulan kamu coba, kamu akan tahu if it works and if it doesn't then its okay, you know, you try to fail fast and hopefully you will reach good ideas /succeed fast juga," saran dia.

Tentang tantangan start up Indonesia, menurut Willix adalah kesempatan. Tren yang terjadi di Australia sekarang bakal berkembang di Indonesia 5 tahun mendatang.

"Kalau misalnya di Indonesia itu very good opportunity ya, karena yang happens di Australia sekarang,
bakal happen di Indonesia 5 tahun mendatang. Ada scope ke future start up di Indonesia itu seperti apaa, apa yang terjadi di Australia sekarang bakal happens di Indonesia 5 tahun dari sekarang," tuturnya.

Mengenai masalah budaya, di Australia, tren anak mudanya sekarang adalah mendirikan perusahaan start up. Sedangkan di Indonesia, masih berpikir bekerja pada orang lain.

"Di Indonesia lebih ke "I wanna work for someone", thinking about everything, kalau di sini mah langsung aja," jelas dia.

Dia menilai kini start up di Indonesia cenderung overvalue, nilai perusahaan lebih besar daripada normalnya. Hal ini karena penetrasi internet di Indonesia masih rendah, berbeda dengan di Australia.

"Start up di Indonesia itu sekarang valuenya bagus banget di mana VC memberikan value yang lebih besar dari normal buat indonesian startups. Kalau di Australia valuenya lebih kecil. Soalnya kalau di Indonesia, VC ngasih uang mereka lihat Indonesia market, internet penetrationnya masih kecil, 15-25%  sekarang which means di masa depan bakal more internet user dan year on year internet growth di Indonesia juga sudah exponential banget. Di Aussie sudah hampir 90% (penetrasi internet)," jelas dia.

Karena penetrasi internet di Australia sudah tinggi, maka kebanyakan start up di Australia kini lebih mengarah ke perusahaan global, bukan hanya dalam jangkauan Australia saja.

"Makanya kebanyakan Australia, start up lebih ke global mindetnya. Kalau di Indonesia start up cuma ke Indonesia doang and it is still big market - contohnya bukalapak.com, go-jek dan sebagainya... mereka masih lihat pasar Indonesia, bukan pasar global which is fine" tuturnya.

Baca terus fokus Jelajah Australia, dan ikuti Hidden Quiz-nya!
(nwk/nrl)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads