Rusia telah mengesampingkan respons militer terhadap Turki yang merupakan negara anggota NATO (North Atlantic Treaty Organization). Namun Rusia bersumpah akan melakukan langkah-langkah balasan di seluruh sektor ekonomi Turki, termasuk pariwisata, pertanian dan investasi.
"Keputusan telah diambil, untuk menghentikan aturan bebas visa dengan Turki," tutur Menteri Luar Negeri Rusia, Sergei Lavrov, kepada wartawan setelah berbicara dengan Menteri Luar Negeri Suriah Walid Muallem di Moskow, seperti dilansir AFP, Sabtu (28/11/2015).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Presiden Vladimir Putin sebelumnya memperingatkan warganya untuk tidak bepergian ke Turki, yang menjadi tujuan populer warga Rusia. Kemudian Kementerian Luar Negeri Rusia menyerukan agar warga Rusia yang ada di Turki segera pulang, dengan mengutip adanya ancaman teroris.
Dalam keterangannya, Lavrov menyangkal bahwa keputusan menangguhkan bebas visa ini merupakan aksi balasan untuk Turki. "Ancaman dari negara ini cukup nyata," sebutnya, sembari menyatakan bahwa militan masuk ke wilayah Turki dari berbagai wilayah.
"Rusia cukup khawatir dengan meningkatnya ancaman teroris di Republik Turki. Ini terkait langsung dengan keselamatan Rusia dan warganya," imbuhnya.
Lavrov menambahkan, sepanjang tahun ini Turki mendeportasi lebih dari 200 warga Rusia. Sedangkan tercatat hingga 26 November, ada lebih dari 9.900 turis asal Rusia yang berlibur di Turki.
"Tidak akan ada satupun turis Rusia di Turki pada 26 Desember 2015," tegas Badan Pariwisata Rusia, Rostourism.
(nvc/try)










































