Seperti dilansir AFP, Jumat (27/11/2015), kematian diplomat Iran yang bernama Ghazanfar Roknabadi (49) ini memicu kecurigaan otoritas Iran. Oleh karena itu, Iran menyatakan hendak melakukan pemeriksaan medis tersendiri pada jasad sang diplomat.
Pejabat senior Iran yang enggan disebut namanya menyebut, dua minggu lalu Roknabadi masih hidup dan dalam keadaan disandera di Saudi. Namun pada Kamis (26/11), otoritas Iran memastikan jasad Roknabadi ditemukan di Saudi. Jasad Roknabadi ini diterbangkan pulang dan tiba di Teheran pada Jumat (27/11) waktu setempat. Peti mati yang menjadi tempat jasad Roknabadi bersemayam diselimuti bendera Iran.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Jasad Roknabadi telah diidentifikasi oleh otoritas Saudi. Namun pemeriksaan tambahan akan dilakukan otoritas Iran untuk memastikan apakah benar Roknabadi tewas akibat sesak napas saat tragedi Mina, seperti dituturkan Saudi.
"Jika hasil pemeriksaan di Teheran bertentangan dengan klaim Saudi bahwa saudara saya tewas dalam tragedi Mina, maka kami akan melaporkan via forum internasional," ucap saudara laki-laki Roknabadi, Morteza kepada kantor berita ISNA.
Hingga tahun lalu, Roknabadi menjadi utusan Iran untuk Libanon, pos diplomatik yang sensitif. Libanon merupakan markas kelompok Syiah, Hizbullah yang didukung Iran dan bersekutu dengan Presiden Suriah Bashar al-Assad dalam konflik Suriah. Iran yang didominasi Syiah dan Saudi yang didominasi Sunni sudah sejak lama memiliki hubungan yang tak akur dan negara mendukung pihak berlawanan dalam konflik Suriah, begitu juga dalam konflik di Yaman.
Ketika dilaporkan menghilang, juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran Marzieh Afkham sebelumnya membantah laporan media Saudi bahwa Roknabadi pergi ke Saudi dengan identitas palsu. "Dia masuk dengan paspor normal untuk menunaikan ibadah haji," tegasnya saat itu.
(nvc/nwk)











































