"Sebuah pesawat Rusia telah ditembak jatuh dan seorang pilot tewas -- ini insiden yang disayangkan dan kami menyatakan bersimpati," demikian disampaikan Kementerian Luar Negeri China dalam statemen singkat di situsnya, seperti dilansir kantor berita Reuters, Jumat (27/11/2015).
Ditambahkan kementerian, melawan terorisme merupakan tugas mendesak bagi komunitas internasional untuk dihadapi bersama.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Komunitas internasional harus sungguh-sungguh memperkuat koordinasi dan kerja sama dalam memerangi terorisme guna menghindari insiden seperti ini terjadi kembali," tandas kementerian.
Penembakan pesawat Rusia ini menjadi salah satu insiden paling serius antara Turki, yang merupakan negara anggora NATO dengan Rusia dalam setengah abad terakhir. NATO sendiri telah menyatakan dukungannya untuk Turki, sembari menyerukan semua pihak tetap tenang.
Versi otoritas Rusia menyebut, pesawatnya diserang ketika masih mengudara di dalam wilayah Suriah, atau sekitar 1 kilometer dari perbatasan. Presiden Vladimir Putin bahkan mengingatkan soal konsekuensi serius pada hubungan kedua negara usai insiden ini. Tidak hanya itu, Putin juga menyebut Turki telah menikam Rusia dari belakang serta menyebut Turki sebagai kaki tangan teroris.
Namun dalam suratnya kepada Dewan Keamanan PBB, Turki menyatakan pesawat Rusia itu ditembak jatuh di wilayah udaranya. Turki menyebut ada dua pesawat, yang saat itu tidak diketahui asal negaranya, masuk ke dalam wilayah udara Turki selama 17 detik. Peringatan pun telah diberikan agar pesawat-pesawat itu berputar arah, bahkan disebut ada 10 kali peringatan dalam waktu 5 menit.
(ita/ita)











































