"Tindakan tersebut akan memicu eskalasi krisis Suriah dan mengirimkan pesan yang salah kepada kelompok-kelompok teroris," cetus Menteri Luar Negeri (Menlu) Iran Mohammad Javad Zarif seperti disampaikan juru bicaranya, Hossein Jaber-Ansari.
"Langkah apapun yang meningkatkan ketegangan dan memperumit situasi akan menjadi sinyal yang keliru bagi para teroris," imbuh Ansari mengutip pernyataan Zarif kepada Menlu Rusia Sergei Lavrov, seperti dilansir AFP, Rabu (25/11/2015).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Penembakan pesawat Rusia ini menjadi salah satu insiden paling serius antara Turki, yang merupakan negara anggora NATO dengan Rusia dalam setengah abad terakhir. NATO sendiri telah menyatakan dukungannya untuk Turki, sembari menyerukan semua pihak tetap tenang.
Versi otoritas Rusia menyebut, pesawatnya diserang ketika masih mengudara di dalam wilayah Suriah, atau sekitar 1 kilometer dari perbatasan. Presiden Vladimir Putin bahkan mengingatkan soal konsekuensi serius pada hubungan kedua negara usai insiden ini. Tidak hanya itu, Putin juga menyebut Turki telah menikam Rusia dari belakang serta menyebut Turki sebagai kaki tangan teroris.
Namun dalam suratnya kepada Dewan Keamanan PBB, Turki menyatakan pesawat Rusia itu ditembak jatuh di dalam wilayah udaranya. Turki menyebut ada dua pesawat, yang saat itu tidak diketahui asal negaranya, masuk ke dalam wilayah udara Turki selama 17 detik. Peringatan pun telah diberikan agar pesawat-pesawat itu berputar arah, bahkan disebut ada 10 kali peringatan dalam waktu 5 menit.
(ita/ita)











































