Ditegaskan Erdogan, seperti dilansir Reuters, Rabu (25/11/2015), pesawat tempur Rusia jenis Su-24 itu ditembak saat berada di dalam wilayah Turki, namun puingnya jatuh di dalam wilayah Suriah. Meskipun, lanjut Erdogan, ada beberapa puing yang jatuh di wilayah Turki dan melukai dua warga setempat.
"Kami tidak berniat untuk memperluas dampak insiden ini. Kami hanya mempertahankan keamanan kami dan hak-hak saudara kami," ucap Erdogan, sembari menyatakan bahwa kebijakan Turki di Suriah tidak akan berubah.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Penembakan pesawat Rusia ini menjadi salah satu insiden paling serius antara Turki, yang merupakan negara anggora NATO dengan Rusia dalam setengah abad terakhir. NATO sendiri telah menyatakan dukungannya untuk Turki, sembari menyerukan semua pihak tetap tenang.
Versi otoritas Rusia menyebut, pesawat itu diserang ketika masih mengudara di dalam wilayah Suriah, atau sekitar 1 kilometer dari perbatasan. Presiden Vladimir Putin bahkan mengingatkan soal konsekuensi serius pada hubungan kedua negara usai insiden ini. Tidak hanya itu, Putin juga menyebut Turki telah menikam Rusia dari belakang serta menyebut Turki sebagai kaki tangan teroris.
Namun dalam suratnya kepada Dewan Keamanan PBB, Turki menyatakan pesawat Rusia itu ditembak jatuh di dalam wilayah udaranya. Turki menyebut ada dua pesawat, yang saat itu tidak diketahui asal negaranya, masuk ke dalam wilayah udara Turki selama 17 detik. Peringatan pun telah diberikan agar pesawat-pesawat itu berputar arah, bahkan disebut ada 10 kali peringatan dalam waktu 5 menit.
"Menindaklanjuti pelanggaran itu, pesawat pertama telah meninggalkan wilayah udara nasional Turki. Pesawat kedua ditembak ketika masih di dalam wilayah udara nasional Turki oleh jet tempur F-16 Turki, yang melakukan patroli di area itu. Pesawat kedua jatuh di perbatasan Turki dan Suriah, di sisi wilayah Suriah," demikian ditulis Duta Besar Turki untuk PBB, Halit Cevik dalam suratnya kepada Dewan Keamanan PBB.
(nvc/ita)











































