Pada Januari lalu, otoritas Turki menahan salah satu pelaku teror Paris di perbatasan Turki dan mendeportasinya ke Belgia. Brahim Abdeslam, saat itu dicurigai telah diradikalisasi dan hendak bergabung Islamic State of Iraq and Syria (ISIS) di Suriah. Saat interogasi di Belgia, Abdeslam membantah terlibat dengan kelompok militan dan akhirnya dibebaskan. Demikian seperti dilansir Reuters, Senin (23/11/2015).
Demikian juga dengan saudaranya, Salah, yang diyakini otoritas Belgia tak terindikasi terorisme. Pada 13 November, Abdeslam meledakkan diri di bar Le Comptoir Voltaire, Paris hingga tewas dan melukai satu orang lainnya. Sedangkan Salah masih diburu terkait keterlibatannya dalam serangan yang sama.
Salah Abdeslam yang masih buron (REUTERS) |
Di Prancis, daftar S atau daftar keamanan untuk orang-orang yang dianggap menjadi ancaman keamanan nasional memuat nama Ismail Omar Mostefai, yang meledakkan diri di dalam gedung konser Bataclan, Paris pada 13 November lalu. Sumber kepolisian Prancis menyebut, Mostefai yang warga negara Prancis keturunan Aljazair ini, sebenarnya sudah masuk dalam daftar S sejak tahun 2010.
Pada Desember 2014, Turki menghubungi Prancis untuk memberitahu kecurigaan soal Mostefai bergabung ISIS, namun tak ada respons. Turki kembali mengirim peringatan pada Prancis, Juni 2015, dan kembali tak ada jawaban. Prancis dilaporkan baru merespons Turki pekan lalu, setelah teror Paris terjadi.
Sisa-sisa serangan teror Paris (REUTERS) |
Satu pelaku lainnya, Bilal Hadfi yang meledakkan diri di luar Stade de France juga masuk dalam daftar pengawasan terorisme. Pada Februari lalu, Hadfi yang warga Prancis namun tinggal di Belgia ini, berkunjung ke Suriah dan berhasil kembali ke Belgia tanpa terdeteksi intelijen Eropa.
Disebut Reuters, kepolisian, intelijen dan otoritas keamanan Eropa sebenarnya memiliki kesempatan menahan setidaknya satu pelaku. Tapi faktanya, tidak ada yang ditahan sehingga mereka bebas bergerak di Eropa sambil merencanakan serangan teror mematikan.
"Kita berada di situasi di mana badan keamanan kewalahan. Mereka memperkirakan sesuatu terjadi, tapi tidak tahu di mana," sebut Nathali Goulet yang memimpin komisi penyelidikan Senat Prancis terhadap jaringan jihad.
Banyak juga yang menyebut Belgia, asal beberapa pelaku teror Paris termasuk dalang utama Abdelhamid Abaaoud yang tewas di tangan polisi Prancis, sebagai titik lemah sistem keamanan Eropa. "Mereka tidak memiliki peralatan yang sama seperti MI5 asal Inggris atau DGSI (intelijen Prancis)," ucap mantan kepala DST, unit antiterorisme Prancis, Louis Caprioli.
Dalang utama teror Paris, Abdelhamid Abaaoud (REUTERS/Social Media Website via Reuters) |
Dituturkan pakar keamanan, hal yang menjadi tantangan intelijen ialah menentukan seberapa berbahaya sosok radikal dan apakah mereka mungkin melakukan serangan teror. "Ketika operasi (teroris) besar tengah dipersiapkan, mereka (para pelaku) diminta untuk tidak menarik perhatian sejak beberapa bulan sebelumnya. Begitu mereka tidak lagi masuk dalam radar polisi, situasinya menjadi seperti mencari jarum di tumpukan jerami," ucap Roland Jacquard, presiden International Terrorism Observatory, pemantau terorisme yang berbasis di Paris. (nvc/ita)












































Salah Abdeslam yang masih buron (REUTERS)
Sisa-sisa serangan teror Paris (REUTERS)
Dalang utama teror Paris, Abdelhamid Abaaoud (REUTERS/Social Media Website via Reuters)