Tahun 2004 lalu, seorang ulama bernama Ibrahim Awad Ibrahim al-Badri dijebloskan ke penjara ini karena terlibat kelompok radikal Jamaat Jaysh Ahl al-Sunnah. Selang 11 tahun, kini dia dikenal sebagai Abu Bakr al-Baghdadi yang menjadi pria paling dicari di dunia karena memimpin ISIS yang dikenal keji. Meskipun tidak memiliki faktor langsung terhadap kemunculan ISIS, para pakar sepakat Kamp Bucca memainkan peranan krusial dalam pembentukannya.
"Jelas (Kamp Bucca) merupakan inkubator (ISIS)," sebut peneliti Quillam Foundation, Rachel Bryson, pakar yang mendalami tentang ISIS dan jihad, seperti dilansir news.com.au, Senin (23/11/2015). Bryson menyebut fasilitas penjara milik AS ini sama saja berfungsi sebagai 'universitas teroris' yang mengizinkan para narapidananya untuk memperluas jaringan dan menyusun cetak biru dari kelompok yang kini disebut sebagai ISIS.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Para tahanan di Kamp Bucca pada tahun 2008 lalu (AFP PHOTO/DAVID FURST) |
Al-Baghdadi merupakan salah satu dari ratusan ribu orang yang pernah ditahan di Kamp Bucca usai invasi AS ke Irak. Sementara sorotan media lebih ke penjara AS lainnya di Irak, Abu Ghraib, yang disebut sarat penyiksaan, tanpa disadari Kamp Bucca menjadi pusat berkembangnya radikalisme. Sedikitnya 9 pemimpin senior ISIS pernah ditahan di sini, salah satunya Haji Bark, kolonel Irak era Saddam Hussein yang menjadi pendiri struktur ISIS sejak awal.
Dalam wawancara dengan media Inggris, The Guardian, tahun 2014 lalu, salah satu pemimpin senior ISIS yang dikenal dengan nama Abu Ahmed menyebut Kamp Bucca sebagai lingkungan yang sempurna bagi teroris untuk duduk bersama dan menyusun rencana. Abu Ahmed yang mengaku bertemu dengan al-Baghdadi di Kamp Bucca menyebut, saat itu, al-Baghdadi mampu membangun jaringan teror secara diam-diam tanpa memicu kecurigaan AS.
"Saya merasa dia menyembunyikan sesuatu di dalam, kegelapan yang tidak ingin dia tunjukkan kepada orang lain. Dia berbeda dengan yang lain yang lebih mudah didekati. Dia menjauhkan diri, jauh dari kita semua," terangnya, sembari menyebut Baghdadi saat itu dihormati oleh staf AS di penjara.
"Jika dia ingin mengunjungi orang di kamp lain, dia bisa, tapi kami tidak. Dan sementara itu, strategi baru yang dia jalankan, disusun tanpa mereka sadari, dan itu adalah membentuk ISIS. Jika tidak ada penjara Amerika di Irak, tidak akan ada ISIS sekarang. Bucca adalah sebuah pabrik. Pabrik yang melahirkan kita semua. Pabrik yang melahirkan ideologi kami," tegasnya.
Gerbang Kamp Bucca saat difoto pada tahun 2009 (AFP PHOTO/ESSAM AL-SUDANI) |
Menurut Mayor Jenderal Doug Stone dari Marinir AS yang sempat ditugaskan mengelola Kamp Bucca, upaya meredam berkembangnya radikalisme di penjara itu sempat dilakukan dengan mengerahkan imam moderat, namun itu sudah terlambat. Mantan veteran militer AS lainnya, Andrew Thompson, yang bertugas selama 8 tahun di Irak dan juga akademisi Jeremi Suri, menyebut benih-benih radikalisasi susah dihilangkan dari penjara itu.
"Di Kamp Bucca, contohnya, tahanan paling radikal ditempatkan bersama tahanan yang tidak terlalu mengancam, beberapa dari mereka tidak bersalah atas tindakan pidana. Koalisi penjara menjadi pusat perekrutan dan area pelatihan bagi teroris yang kini dihadapi AS," ucapnya seperti dilansir New York Times.
Kamp Bucca telah ditutup pada tahun 2009 lalu dan pada masa puncaknya, kamp tersebut pernah menampung sekitar 26 ribu tahanan. Kini kamp itu berubah menjadi hotel yang dikelola oleh Kufan Group.
Para tahanan di Kamp Bucca tidur di luar pada tahun 2008 lalu (AFP PHOTO/DAVID FURST) |












































Para tahanan di Kamp Bucca pada tahun 2008 lalu (AFP PHOTO/DAVID FURST)
Gerbang Kamp Bucca saat difoto pada tahun 2009 (AFP PHOTO/ESSAM AL-SUDANI)
Para tahanan di Kamp Bucca tidur di luar pada tahun 2008 lalu (AFP PHOTO/DAVID FURST)