Seperti dilansir Reuters, Senin (23/11/2015), penyerangan yang terjadi pada Jumat (20/11) lalu, berujung penyanderaan 170 orang. Penyanderaan berakhir sekitar 8 jam kemudian setelah tentara Mali dikerahkan ke dalam hotel dan seluruh sandera berhasil dibebaskan.
Selang beberapa hari setelah serangan, hanya sedikit informasi yang didapat mengenai identitas para penyerang. Pada Minggu (22/11), Front Pembebasan Massina menjadi kelompok militan ketiga yang mengklaim bertanggung jawab atas serangan dan penyanderaan itu. Dua kelompok militan lainnya, yakni Al Mourabitoun dan Al-Qaeda in the Islamic Maghreb (AQMI) juga telah mengklaim bertanggung jawab.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sedikitnya 27 orang dilaporkan tewas dalam penyerbuan itu. Otoritas intelijen Mali menyebut sedikitnya ada 13 warga negara asing yang tewas dalam serangan itu, yang terdiri atas enam warga Rusia, tiga warga China, dua warga Belgia, seorang warga Amerika Serikat dan satu warga Senegal.
Media Israel sempat melaporkan satu warganya tewas dalam serangan di Mali. Namun otoritas Mali sendiri tidak bisa mengkonfirmasi klaim itu.
Presiden Mali Ibrahim Boubacar Keita menyatakan dua pelaku bersenjata yang mendalangi serangan itu tewas dalam baku tembak. Namun saksi mata menyebut ada satu lagi pelaku bersenjata.
Penyelidikan yang tengah dilakukan otoritas Mali ini mendapat bantuan dari Prancis, yang telah mengirimkan tim penyelidik elite ke Mali. (nvc/ita)











































