Padahal namanya terdaftar dalam daftar pengawasan otoritas Uni Eropa. Namun tetap saja Abaaoud, anggota Islamic State of Iraq and Syria (ISIS) ini lolos dari sistem keamanan Eropa. Pekan ini, otoritas Jerman menyebut Abaaoud sempat terbang melalui salah satu bandaranya pada awal tahun 2014.
"Abdelhamid Abaaoud pada 20 Januari 2014, diperiksa oleh kepolisian federal di Bandara Cologne Bonn. (Saat itu) Dia dalam perjalanan ke Istanbul," tutur seorang juru bicara kepolisian federal Jerman, seperti dilansir AFP, Jumat (20/11/2015), mengkonfirmasi laporan majalah Spiegel.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Juru bicara itu menambahkan, sebagai warga negara Belgia, Abaaoud memiliki kebebasan untuk bepergian ke wilayah-wilayah Uni Eropa tanpa batasan.
Secara terpisah, Menteri Dalam Negeri Prancis Bernard Cazeneuve menyatakan pihaknya sama sekali tidak menerima informasi soal keberadaan ekstremis mencurigakan asal Eropa sebelum serangan terjadi. Baru selang 3 hari setelah serangan, lanjut Cazeneuve, ada salah satu negara yang memberitahu keberadaan Abaaoud di Yunani sebelum serangan teror terjadi. Yunani memang dikenal sebagai salah satu gerbang masuk ke kawasan Uni Eropa.
"Badan intelijen salah satu negara di luar Eropa mengindikasikan mereka memiliki informasi soal keberadaannya (Abaaoud) di Yunani," tutur Cazeneuve, tanpa menyebut nama negara yang dimaksud. Informasi ini meyakinkan Prancis bahwa Abaaoud yang telah mendalangi teror Paris pada 13 November.
Intelijen Jerman yang bertanggung jawab melacak keberadaan ekstremis di wilayahnya tidak mengabari otoritas Belgia, tempat asal Abaaoud, terkait perjalanan yang dilakukannya awal tahun 2014 lalu, yang diduga menuju tujuan akhir Suriah. Dalam wawancara dengan majalah online ISIS berbahasa Inggris, Dabiq yang dirilis 12 Februari lalu, Abaaoud mengklaim dirinya bisa keluar-masuk Eropa dan kembali ke Suriah sesuka hati dan tanpa terdeteksi.
"Saya bisa pergi dan datang ke Sham (Suriah-red) meskipun dikejar banyak agen intelijen. Nama dan foto saya ada di seluruh berita namun saya bisa tinggal di tanah mereka, menjalankan operasi terhadap mereka dan pergi dengan selamat," klaim Abaaoud.
Abdelhamid Abaaoud (REUTERS/Social Media Website via Reuters) |












































Abdelhamid Abaaoud (REUTERS/Social Media Website via Reuters)