Takut Disusupi Teroris, Pengungsi Suriah Ditolak di 25 Negara Bagian di AS

Teror Berdarah di Paris

Takut Disusupi Teroris, Pengungsi Suriah Ditolak di 25 Negara Bagian di AS

Yudhistira Amran Saleh - detikNews
Selasa, 17 Nov 2015 10:11 WIB
Takut Disusupi Teroris, Pengungsi Suriah Ditolak di 25 Negara Bagian di AS
Foto: Pengungsi Suriah berenang di Laut Yunani (REUTERS/Alkis Konstantinidis)
Washington DC - Setengah dari 50 negara bagian di Amerika Serikat (AS) menolak untuk menerima pengungsi Suriah. Hal itu menyusul serangan yang terjadi di Paris, Jumat (13/11) tengah malam lalu.

Dilansir dari AFP, Selasa (17/11/2015), anggota parlemen dari Partai Republik pun mendukung penghentian program penerimaan pengungsi tersebut. Rencananya tahun 2016, AS akan menerima 10.000 pengungsi Suriah.

Presiden Barack Obama kemudian mendorong kembali untuk menyaring para pengungsi yang akan masuk ke negaranya. Akan tetapi Obama menghadapi tekanan dari 22 negara bagian yang dikuasai oleh Republik, calon presiden dari Partai Republik, anggota kongres dan salah seorang Gubernur dari Partai Demokrat.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Mereka berharap agar AS tidak menerima para pengungsi Suriah tersebut. "Mengingat serangan tragis yang terjadi di Paris dan ancaman yang jelas terlihat. Texas tidak akan ikut berpartisipasi dalam program apapun yang melibatkan pengungsi Suriah. Karena salah satu dari mereka bisa saja teroris," kata Gubernur Texas, Greg Abbott.

"Saya akan mengerahkan segala cara untuk menghentikan rencana dari Pemerintah Obama untuk menampung pengungsi Suriah di Mississippi," lanjut Gubernur Mississippi Phil Bryant.



Namun tidak semua negara bagian di AS menolak pengungsi Suriah. Sejak 2011, AS telah menyumbang dana bantuan kemanusiaan sebesar USD 4 miliar atau sekitar Rp 56 triliun bagi orang-orang yang terkena dampak kekerasan di Suriah.

Sebelumnya, Perserikatan Bangsa-bangsa (PBB) menyerukan kepada negara-negara Eropa untuk menampung sekitar 200 ribu pengungsi dan imigran kemanusiaan.

"Kita menghadapi situasi yang luar biasa. Kita membutuhkan respons yang luar biasa juga," tutur Pemimpin Badan Pengungsi PBB atau UNHCR Antonio Guterres kepada wartawan di Jenewa, Swiss, seperti dilansir AFP, Sabtu (5/9/2015).

(yds/mad)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads