Pascateror Paris, WNI Mulai Beraktivitas Normal

Pascateror Paris, WNI Mulai Beraktivitas Normal

DIMAS ADITYO - detikNews
Selasa, 17 Nov 2015 09:40 WIB
Pascateror Paris, WNI Mulai Beraktivitas Normal
Ilustrasi (Foto: AFP)
Paris - Warga Paris, Prancis, terlihat mulai menjalankan aktivitas secara normal pascaserangkaian aksi teror dan serangan bunuh diri yang terjadi di kota itu, Jumat, 13 November 2015 malam, lalu. Termasuk warga negara Indonesia (WNI) yang berada di kota tersebut.

Nyoto, seorang WNI yang tinggal di Paris mengatakan, sejumlah jalan protokol di kota itu sudah tampak ramai dengan lalu-lalang kendaraan pada Senin (16/11/2015) pagi waktu setempat. Termasuk di depan tempat tinggal Nyoto yang hanya berjarak tak sampai 1 kilometer dari Menara Eiffel, yang merupakan jantung kota Paris.

"Saya lihat dari balkon, jalan sudah ramai (seperti biasa)," kata Nyoto, melalui aplikasi pesan singkat kepada detikcom, Senin siang WIB, atau Senin pagi waktu Paris (Jakarta dan Paris selisih waktu 6 jam).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Menurut pria yang bekerja sebagai staf protokol di Kedutaan Besar RI di Prancis tersebut, aksi teror berdarah itu tak urung telah menimbulkan trauma bagi warga Paris, termasuk WNI yang menetap di sana. Alhasil, kota berjuluk pusat mode dunia, yang nyaris tak pernah sepi itu, pada Sabtu (14/11) lalu, atau sehari setelah kejadian teror, mendadak lengang.

"Orang-orang masih takut keluar (rumah)," ujarnya.



Namun warga Paris rupanya tak perlu berlama-lama dirundung kecemasan. Dengan tetap menjaga kewaspadaan, pada Minggu (15/11) kemarin, satu-persatu warga mulai berani beraktivitas di luar rumah. "Hari Sabtu itu jalan-jalan, pertokoan, mal, stasiun KA, airport, sepi. Hari Minggu kemarin sudah mulai menggeliat," tutur pria yang sudah puluhan tahun menetap di Paris itu.

Hari ini, warga juga terlihat sudah kembali beraktivitas secara normal. Termasuk dirinya yang akan kembali menjalankan tugasnya di kantor kedutaan besar. "Semoga (aksi teror) seperti ini tidak terjadi lagi, karena menimbulkan trauma bagi warga di Prancis, bahkan seluruh Eropa," ucapnya.

(dim/Hbb)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads