Polisi Prancis Gerebek Beberapa Gudang Senjata di Paris

Teror Berdarah di Paris

Polisi Prancis Gerebek Beberapa Gudang Senjata di Paris

Yudhistira Amran Saleh - detikNews
Senin, 16 Nov 2015 16:01 WIB
Polisi Prancis Gerebek Beberapa Gudang Senjata di Paris
Foto: twitter
Paris - Sebanyak 20 orang diduga terlibat dalam dukungan, perencanaan, dan serangan berdarah di Paris, Prancis, Jumat (13/11) tengah malam. Hal itu dikatakan oleh seorang pejabat senior setempat.

Saat ini ke-20 orang tersebut telah diburu ke seluruh penjuru Eropa. Pejabat itu juga menambahkan, hal serupa pernah terjadi sewaktu Said dan Chรฉrif Kouachi, mengadakan pengepungan berdarah di Paris pada bulan Januari.

Dilansir dari BBC, Senin (15/11/2015), Abdeslam Salah yang lahir pada 15 September 1989 di Brusel, Belgia merupakan orang yang meledakkan diri di cafe di Kota Paris. Bersama ketiga saudaranya, Abdeslam menjalankan aksinya.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Salah satu saudaranya bernama Salah (26) merupakan pelaku yang menjalankan mobil yang diduga sebagai alat transportasi dalam serangan tersebut. Sedangkan saudara yang satunya lagi saat ini sudah tertangkap di Belgia, namun polisi belum bisa mengungkap identitasnya.

Polisi menangkap saudara Abdeslam bersama dengan mobil sewaannya di Belgia. Penyerangan di 6 kota di Paris ini dilakukan oleh delapan orang.

Dua orang pelakunya telah diketahui pernah melakukan pelatihan di Suriah. "Begitu banyak pelaku, beberapa di antaranya sudah diketahui polisi, mereka mampu merencanakan serangan besar, menggunakan bom bunuh diri, senjata, dan hal itu intelijen tak mengetahui. Itu adalah kegagalan intelijen yang utama," kata salah seorang pejabat intelijen Eropa.

Sebelumnya, para penyelidik Prancis juga telah menemukan 3 pucuk senapan otomatis jenis Kalashnikov dalam sebuah mobil yang ditemukan di Montreiul, Paris. Senjata itu dipercaya digunakan oleh para teroris dalam penyerangan.

Pengebom pertama yang meledakkan diri di stadion sepak bola Stade de France berkewarganegaraan Suriah. Dia diketahui merupakan migran yang tiba Pulau Leros, Yunani, pada 2 Oktober 2015.

Orang tersebut memegang paspor darurat atas nama Ahmad al-Mohammed. Sidik jari pada paspor itu cocok dengan pengebom di Stade de France. Dua pengebom lainnya disebut memegang paspor palsu dari Turki. (yds/ita)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads