"Kami tahu bahwa operasi tengah direncanakan dan sedang dipersiapkan, bukan hanya terhadap Prancis namun juga negara-negara Eropa lainnya," ujar Valls seperti dilansir kantor berita AFP, Senin (16/11/2015).
Dikatakan Valls, Prancis akan hidup dalam ancaman serangan-serangan teror untuk waktu yang lama.
Valls menuturkan, dirinya terpukul oleh fakta bahwa orang-orang muda telah menjadi target dalam serangan Jumat (13/11) lalu di gedung konser, bar-bar dan restoran serta di luar stadion Stade de France yang menewaskan lebih dari 100 orang.
"Sekali lagi para teroris telah menyerang Prancis, rakyat Prancis, kaum muda. Banyak orang muda yang tewas," tandas Valls.
Sejauh ini, para penyelidik Prancis telah menemukan 3 pucuk senapan otomatis jenis Kalashnikov dalam sebuah mobil yang ditemukan di Montreiul, Paris. Senjata itu dipercaya digunakan oleh para teroris dalam penyerangan.
Pengebom pertama yang meledakkan diri di stadion sepak bola Stade de France berkewarganegaraan Suriah. Dia diketahui merupakan migran yang tiba Pulau Leros, Yunani, pada 2 Oktober 2015.
Orang tersebut memegang paspor darurat atas nama Ahmad al-Mohammed. Sidik jari pada paspor itu cocok dengan pengebom di Stade de France. Dua pengebom lainnya disebut memegang paspor palsu dari Turki. Â
(ita/ita)











































