"Teror adalah teror dan kami mengutuk semua teror. Baik itu menghancurkan rumah-rumah di Nablus dan membunuh anak-anak kami oleh Israel ataupun menyerang pesawat Rusia di atas wilayah Mesir. Serangan-serangan Paris merupakan aksi kejahatan yang dilakukan para teroris pengecut," demikian statemen Fatah di laman resmi Facebook-nya.
Sementara dalam editorial terbukanya, harian PA, Al-Hayat Al-Jadida, Senin (16/11/2015) menuliskan bahwa badan intelijen rahasia Israel, Mossad mendalangi serangan teror di Paris pada Jumat (13/11) lalu. Disebutkan bahwa Israel diuntungkan dari serangan-serangan itu dan bahwa serangan tersebut sesuai dengan tujuan Perdana Menteri (PM) Israel Benjamin Netanyahu.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sejauh ini, para penyelidik Prancis telah menemukan 3 pucuk senapan otomatis jenis Kalashnikov dalam sebuah mobil yang ditemukan di Montreiul, Paris. Senjata itu dipercaya digunakan oleh para teroris dalam penyerangan.
Pengebom pertama yang meledakkan diri di stadion sepak bola Stade de France berkewarganegaraan Suriah. Dia diketahui merupakan migran yang tiba Pulau Leros, Yunani, pada 2 Oktober 2015.
Orang tersebut memegang paspor darurat atas nama Ahmad al-Mohammed. Sidik jari pada paspor itu cocok dengan pengebom di Stade de France. Dua pengebom lainnya disebut memegang paspor palsu dari Turki. (ita/ita)










































