Serangan Paris Disamakan dengan Aksi Teror Israel terhadap Palestina

Serangan Paris Disamakan dengan Aksi Teror Israel terhadap Palestina

Rita Uli Hutapea - detikNews
Senin, 16 Nov 2015 15:10 WIB
Serangan Paris Disamakan dengan Aksi Teror Israel terhadap Palestina
Foto: Pool
Tepi Barat, - Otoritas Palestina (PA) dan gerakan Fatah mengecam serangan-serangan teror di Paris, Prancis. Fatah pun menyamakan serangan teror Paris tersebut dengan aksi-aksi teror yang dilakukan Israel terhadap rakyat Palestina.

"Teror adalah teror dan kami mengutuk semua teror. Baik itu menghancurkan rumah-rumah di Nablus dan membunuh anak-anak kami oleh Israel ataupun menyerang pesawat Rusia di atas wilayah Mesir. Serangan-serangan Paris merupakan aksi kejahatan yang dilakukan para teroris pengecut," demikian statemen Fatah di laman resmi Facebook-nya.

Sementara dalam editorial terbukanya, harian PA, Al-Hayat Al-Jadida, Senin (16/11/2015) menuliskan bahwa badan intelijen rahasia Israel, Mossad mendalangi serangan teror di Paris pada Jumat (13/11) lalu. Disebutkan bahwa Israel diuntungkan dari serangan-serangan itu dan bahwa serangan tersebut sesuai dengan tujuan Perdana Menteri (PM) Israel Benjamin Netanyahu.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Jelas bahwa Mossad akan membakar Beirut dan Paris guna mencapai tujuan-tujuan Netanyahu. Dia, yang menantang pemilik Gedung Putih, menyembunyikan cukup kejahatan dalam jiwanya untuk membakar dunia," demikian ditulis media tersebut.

Sejauh ini, para penyelidik Prancis telah menemukan 3 pucuk senapan otomatis jenis Kalashnikov dalam sebuah mobil yang ditemukan di Montreiul, Paris. Senjata itu dipercaya digunakan oleh para teroris dalam penyerangan.

Pengebom pertama yang meledakkan diri di stadion sepak bola Stade de France berkewarganegaraan Suriah. Dia diketahui merupakan migran yang tiba Pulau Leros, Yunani, pada 2 Oktober 2015.

Orang tersebut memegang paspor darurat atas nama Ahmad al-Mohammed. Sidik jari pada paspor itu cocok dengan pengebom di Stade de France. Dua pengebom lainnya disebut memegang paspor palsu dari Turki. (ita/ita)


Berita Terkait