Serangan Paris Picu Perdebatan Untuk Lebih Keras terhadap Pengungsi

Serangan Paris Picu Perdebatan Untuk Lebih Keras terhadap Pengungsi

Rita Uli Hutapea - detikNews
Senin, 16 Nov 2015 11:59 WIB
Serangan Paris Picu Perdebatan Untuk Lebih Keras terhadap Pengungsi
Foto: Pool
Paris, - Serangan teror di Paris, Prancis dan temuan sebuah paspor Suriah di dekat salah satu mayat penyerang, telah memicu kembali perdebatan mengenai perlunya mengambil sikap lebih keras terhadap para migran.

Di tengah gelombang migran yang masiv, negara-negara Uni Eropa selama berbulan-bulan ini telah berdebat mengenai bagaimana mengendalikan aliran migran tersebut dan menentukan jumlah pengungsi yang akan diterima masing-masing negara.

Menyusul serangan teror di Paris, seruan makin gencar agar negara-negara lebih berhati-hati terhadap gelombang migran dari Timur Tengah dan Afrika.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Tidak semua pengungsi adalah teroris ISIS. Namun untuk percaya bahwa tak ada satu pun petempur (ISIS) di antara pengungsi adalah naif," ujar Markus Soeder, politikus partai konservatif Jerman, CSU kepada media Jerman seperti dilansir kantor berita AFP, Senin (16/11/2015).

"Paris mengubah segalanya dan ini bukan waktu untuk imigrasi tak terkendali," tutur Soeder yang partainya sangat kritis terhadap kebijakan Kanselir Jerman Angela Merkel dalam mengakomodir pengungsi.

Dilansir CNN, Minggu (15/11/2015) para penyelidik Prancis menemukan 3 pucuk senapan otomatis jenis Kalashnikov dalam sebuah mobil yang ditemukan di Montreiul, Paris. Senjata itu dipercaya digunakan oleh para teroris dalam penyerangan.

Pengebom pertama yang meledakkan diri di stadion sepak bola Stade de France berkewarganegaraan Suriah. Dia diketahui merupakan migran yang tiba Pulau Leros, Yunani, pada 2 Oktober 2015.



Orang tersebut memegang paspor darurat atas nama Ahmad al-Mohammed. Sidik jari pada paspor itu cocok dengan pengebom di Stade de France.

Dua pengebom lainnya disebut memegang paspor palsu dari Turki. Petugas masih terus mengidentifikasi di mana dan bagaimana para teroris ini melakukan penyerangan.

(ita/ita)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads