AS, Rusia dan Negara Lain Sepakat Gencatan Senjata di Suriah

Teror Berdarah di Paris

AS, Rusia dan Negara Lain Sepakat Gencatan Senjata di Suriah

Yulida Medistiara - detikNews
Minggu, 15 Nov 2015 06:44 WIB
AS, Rusia dan Negara Lain Sepakat Gencatan Senjata di Suriah
Foto: istimewa
Paris - Amerika Serikat, Rusia dan beberapa negara Eropa, serta beberapa negara Timur Tengah mengatur rencananya terhadap proses politik di Suriah. Proses itu mengarah pada pemilu di Suriah yang dalam waktu dua tahun ini akan segera digelar, pembahasan tersebut masih berfokus pada isu-isu kunci seperti nasib Presiden Bashar al-Assad.

Sehari setelah aksi teror di Paris, Prancis Jumat (13/11), beberapa menteri luar negeri dan pejabat dari berbagai negara sepakat untuk melakukan gencatan senjata dalam perang sipil Suriah. Namun, Menteri Luar Negeri AS Jhon Kerry mengatakan gencatan itu tidak akan berlaku pada ISIS.

Presiden Prancis Francois Hollande berjanji tidak akan mengampuni serangan teror ISIS yang menewaskan 153 korban jiwa di Paris. Prancis adalah bagian dari koalisi pimpinan AS melakukan serangan udara di Suriah dan Irak.

Pada Sabtu (14/11) ia berbicara dengan bahasa Prancis mengatakan dalam konferensi pers pada kerabatnya Rusia bahwa serangan tersebut membuat negaranya memperkuat tekad untuk memerangi terorisme.

"Dampak dari perang berdarah ini sampai ke semua negara kita, kini saat yang tepat untuk menghentikan serangan berdarah di Suriah," ujar Menteri Luar Negeri AS Jhon Kerry dilansir Reuters, Minggu (15/11/2015).

Aksi teror di Paris ini mengalihkan fokus dari perundingan di Wina dari detail mengenai organisasi yang terhitung sebagai kelompok oposisi dibandingkan kelompok teroris. Hal itu dikhawatirkan karena dapat mengambil bagian dalam solusi politik di Suriah untuk mengalahkan ISIS secara militer.

"Saya merasa akan ada pengakuan yang berkembang dari kebutuhan untuk menciptakan sebuah koalisi internasional yang efektif untuk melawan ISIS," ujar Menteri Luar Negeri Rusia Sergei Lavrov dalam konferensi pers bersama Kerry dan utusan PBB untuk Suriah. (dhn/dhn)


Berita Terkait