Hamas dan Gerakan Jihad Islam Palestina Mengutuk Serangan ISIS di Paris

Teror Berdarah di Paris

Hamas dan Gerakan Jihad Islam Palestina Mengutuk Serangan ISIS di Paris

Danu Damarjati - detikNews
Minggu, 15 Nov 2015 00:49 WIB
Hamas dan Gerakan Jihad Islam Palestina Mengutuk Serangan ISIS di Paris
Foto: REUTERS/Eduardo Munoz
Jakarta - Dua kelompok besar di Palestina, yakni Hamas dan Gerakan Jihad Islam Palestina, mengutuk serangan ISIS di Paris, Prancis pada Jumat (13/11) kemarin. Peristiwa keji itu telah menewaskan 153 orang.

Sebagaimana dilansir AFP, Minggu (15/11/2015), tokoh senior Hamas dan Gerakan Jihad Islam Palestina mengkritisi pembunuhan di Ibu Kota Prancis itu. Padahal, kedua organisasi di Palestina itu dianggap Amerika Serikat dan Uni Eropa sebagai kelompok teroris juga.

Kepala Majelis Hubungan Internasional Hamas, Bassem Naim, mengatakan kepada AFP bahwa kelompoknya menilai peristiwa di Paris itu sebagai perilaku agresi dan barbar. Sedangkan Gerakan Jihad Islam menyebut peristiwa di Paris itu sebagai kejahatan terhadap orang tak berdosa.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Naim bahkan berharap Prancis bisa kembali pulih usai serangan itu. Mantan menteri kesehatan di Gaza ini ingin stabilitas dan keamanan Prancis kembali terjaga.

Naim menampik anggapan bahwa serangan itu terkait agama Islam. "Terorisme itu tidak punya agama," kata dia.

Anggota biro politik Gerakan Jihad Islam Palestina bernama Nafez Azzam menyatakan, "Kami mengutuk kejahatan di Paris terhadap orang tak berdosa itu. Itu merupakan pesan kebencian. Islam menolak pembunuhan sembarangan."

ISIS mengklaim sebagai dalang penembakan dan peledakan di Paris. ISIS merupakan kelompok yang mengontrol Suriah dan Irak, dan dianggap lebih radikal ketimbang Hamas.

Di sisi lain, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu acapkali menyamakan Hamas dan Gerakan Jihad Islam Palestina dengan ISIS. Contohnya, saat dia berbicara di forum Majelis Umum PBB pada September lalu.

"Ketika kita lihat dari tujuan utama mereka, Hamas itu ISIS, dan ISIS itu Hamas," kata Netanyahu kala itu. (dnu/dhn)


Berita Terkait