Serangan ini terjadi pada Jumat (13/11/2015) malam waktu setempat. Secara hampir bersamaan, ledakan terjadi di sekitar Stadion Stade de France di mana pertandingan persahabatan antara Jerman melawan Prancis sedang berlangsung. Ada pula penembakan di sejumlah bar dan cafe.
Kondisi paling mengerikan terjadi di gedung konser Bataclan. Sekelompok orang menembak penonton konser di gedung yang berkapasitas 1.500 orang tersebut.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Berikut cerita para warga yang berhasil selamat dari serangan di Paris:
10 Menit Mengerikan di Gedung Konser Bataclan
|
Foto: REUTERS/Philippe Wojazer
|
"Lautan darah. Orang-orang berteriak dan semua tergeletak di lantai, berlangsung selama 10 menit, 10 menit, 10 menit yang mengerikan di mana semua orang berada di lantai menutupi kepala mereka," ucap Julien Pearce yang berprofesi sebagai reporter Europe 1 kepada CNN dan dilansir AFP, Sabtu (14/11/2015).
"Kami mendengar begitu banyak suara tembakan dan teroris itu sangat tenang, sangat bertekad dan mereka mengisi senjata mereka sebanyak 3-4 kali dan mereka tidak berkata apa-apa. Mereka tidak mengatakan apapun," imbuhnya.
Pearce mengaku beruntung karena berhasil menyelamatkan diri. "Orang-orang mulai berusaha melarikan diri, menginjak orang-orang yang tergeletak di lantai dan berusaha mencari jalan keluar, dan saya menemukan jalan keluar ketika para teroris mengisi ulang senjata mereka, saya memanjat panggung dan menemukan jalan keluar," tuturnya.
Gedung Konser Seperti Rumah Jagal
|
Foto: REUTERS/Christian Hartmann
|
"Saat ini, semuanya terasa seperti tidak nyata. Itu seperti mimpi buruk," kata Amelie kepada stasiun televisi Prancis, Le Parisien TV.
Amelie dan rekannya ketika itu berada di sisi kanan panggung. Dia mendengar suara tembakan dan kemudian berpaling.
"Kami mengira itu adalah kembang api. Namun itu ternyata pria-pria yang menembak ke segala arah sehingga kami tiarap di lantai dan merayap ke arah panggung," ujar perempuan berusia 35 tahun ini.
Amelie dan serombongan penonton lainnya naik ke sisi kanan panggung dan bersembunyi selama 2 jam di dalam ruangan. Sebanyak 25 orang itu meringkuk sambil mendengar rentetan tembakan dan ledakan.
"Orang-orang berteriak seakan mereka sedang disiksa," ungkapnya.
Sampai akhirnya, para penonton yang bersembunyi itu diselamatkan oleh polisi bersenjata. Penonton yang terluka diminta keluar terlebih dahulu. Saat itulah Amelie tak sanggup berkata-kata setelah melihat kondisi di dalam gedung konser.
"Saat kami keluar, gedung konser itu terlihat seperti rumah jagal," tutup Amelie.
Rentetan Tembakan Tanpa Henti
|
Foto: Istimewa/Reuters
|
"Kami mendengar tembakan, 30 detik penuh tembakan. Seperti tidak ada ujungnya, kami mengira itu adalah kembang api," kata Pierre Montfort yang tinggal di dekat Rue Bichat, salah satu lokasi serangan. Demikian dilansir AFP, Sabtu (14/11/2015).
Seorang saksi mata yang sedang berada di restoran Kamboja mengatakan bahwa tidak ada yang berani bergerak di dalam restoran. Mereka bersembunyi dari rentetan tembakan di luar restoran.
"Seorang gadis dibawa oleh pria muda. Gadis itu tampaknya mati," kata saksi tersebut.
Sembunyi di Toilet
|
Foto: REUTERS/Christian Hartmann
|
"Saya melihat dua pria datang dan mulai menembaki orang-orang. Mereka mengatakan 'apa yang kalian lakukan kepada rakyat Suriah, sekarang kalian akan membayarnya'. Banyak orang berjatuhan. Saya menabrak sesosok jasad, dan kemudian saya pergi ke toilet dan ketika saya keluar, ada banyak mayat di sekitar saya," tutur salah satu korban selamat, Jasmine kepada media setempat, BFMTV dan dilansir Huffington Post, Sabtu (14/11/2015).
Ada korban selamat lainnya yang mengaku dibantu seorang pria yang memiliki apartemen di lantai atas gedung tersebut dan bersembunyi di sana hingga situasi aman. Surat kabar Prancis, Le Figaro melaporkan kisah salah satu korban yang berhasil menyelamatkan diri dari penyanderaan dan penembakan brutal di gedung konser Bataclan.
"Saya melihat pria dengan senapan otomatis melepas tembakan ke udara. Semuanya terbaring di lantai. Dari sana, insting saya bekerja, kami berusaha merangkak sejauh mungkin dari pelaku," tutur seorang pemuda setempat yang enggan disebut namanya, yang menjadi salah satu korban selamat.
Halaman 2 dari 5











































