Hal ini disebutkan dalam laporan organisasi Museum Memorial Holocaust Amerika Serikat yang didasarkan pada wawancara korban yang menyebut adanya pemerkosaan, penyiksaan dan pembunuhan terhadap warga Yazidi. Demikian seperti dilansir AFP, Jumat (13/11/2015).
Yazidi merupakan kelompok minoritas Kurdi yang tinggal di sekitar Pegunungan Sinjar, Irak bagian utara. Mereka bukan keturunan Arab maupun muslim, namun memiliki keyakinan kuno yang unik yang terkait Zoroastrianism, salah satu agama tertua di dunia dan dengan keyakinan Mesopotamia kuno.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Kejahatan genosida terus berlangsung terhadap warga Yazidi, di mana banyak wanita dan anak-anak diculik dan dijadikan budak oleh penculik mereka," ucap Direktur Pusat Pencegahan Genosida Simon-Skjodt pada Museum Memorial Holocaust, Cameron Hudson.
Perwakilan dari pusat pencegahan genosida melakukan perjalanan dua minggu ke Provinsi Nineveh, Irak pada September lalu, untuk mencari tahu kekejaman yang dialami warga di sana. Mereka melihat langsung situasi di sana dan berusaha memahami ancaman yang dihadapi warga sipil serta kelompok minoritas di wilayah itu.
"Kami tidak hanya melihat niat (genosida), kami benar-benar melihat aksi yang diwujudkan dari niat itu. Kami juga melihat pernyataan dari Daulah Islamiyah (nama lain ISIS) dan berbagai propaganda mereka yang menjelaskan dan menegaskan aksi mereka sesuai dengan ideologi ekstremis mereka," ucap wakil direktur pusat pencegahan genosida, Naomi Kikoler, yang ikut terjun ke Irak untuk melakukan wawancara.
Dilaporkan pusat pencegahan genosida bahwa ada banyak tindak pemerkosaan, penyiksaan, penculikan dan pembunuhan yang dialami warga Yazidi. "Kami duduk dengan pria-pria Yazidi ketika mereka menulis nama-nama anggota keluarga mereka yang hilang -- istri dan anak perempuan yang mereka yakini diculik, dan anak laki-laki serta saudara laki-laki mereka yang tidak diketahui kondisinya," demikian bunyi laporan itu. (nvc/ita)











































