Belajar dari MH370, Dunia Sepakat Gunakan Satelit Lacak Penerbangan

Belajar dari MH370, Dunia Sepakat Gunakan Satelit Lacak Penerbangan

Novi Christiastuti - detikNews
Kamis, 12 Nov 2015 18:16 WIB
Belajar dari MH370, Dunia Sepakat Gunakan Satelit Lacak Penerbangan
Ilustrasi (Saul Loeb/AFP)
Jenewa - Negara-negara dunia mencapai kesepakatan bersejarah untuk menggunakan satelit dalam melacak penerbangan. Satelit menjadi kunci penting untuk mencegah hilangnya pesawat secara misterius seperti yang menimpa Malaysia Airlines (MAS) MH370 pada Maret 2014.

Kesepakatan ini dicapai dalam konferensi yang digelar oleh Badan PBB, Serikat Telekomunikasi Internasional (ITU), yang bertujuan untuk meningkatkan sistem pelacakan penerbangan sipil yang selama ini bergantung pada radar.

"Dalam mencapai kesepakatan ini... ITU menanggapi harapan komunitas global pada isu utama terkait pelacakan penerbangan global," ujar Sekjen ITU, Houlin Zhao, dalam pernyataannya, seperti dilansir AFP, Kamis (12/11/2015).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Penyataan ITU memperjelas kekhawatiran yang dipicu oleh tragedi MH370 yang menghilang saat mengudara dari Kuala Lumpur ke Beijing, China. Hingga kini, keberadaan pesawat yang membawa 239 penumpang dan awak itu belum diketahui pasti.

"Tragedi itu memacu pembahasan dunia soal pelacakan penerbangan global dan perlunya langkah terkoordinasi," jelas ITU.

Perwakilan dari lebih 160 negara hadir dalam konferensi yang dikenal dengan nama Konferensi Radio Komunikasi Dunia (WRC). Mereka berkumpul untuk menentukan persyaratan teknis bagi sistem pelacakan yang mampu memberikan pemantauan wilayah udara global secara menyeluruh.

Disampaikan ITU bahwa jaringan frekuensi yang sebelumnya digunakan untuk mentransmisikan sinyal dari pesawat ke stasiun daratan, akan dimanfaatkan untuk mengirimkan transmisi dari pesawat yang mengudara ke satelit.

Direktur Biro Radio Komunikasi ITU, Francois Rancy menyebut, perubahan ini akan memampukan pelacakan real-time untuk semua pesawat di belahan manapun di bumi ini. Sistem yang baru ini diharapkan akan mulai diterapkan secara penuh pada 2017.

Pelacakan dengan radar yang sekarang digunakan, bisa melacak pergerakan pesawat namun cakupannya samar dan timbul-tenggelam, ketika pesawat ada di atas laut atau pesawat terbang di bawah ketinggian normal. Kelemahan itu memicu kebutuhan untuk mengembangkan sistem yang lebih baik. (nvc/nwk)


Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini