Cerita Pahit Peternak Australia Saat Ada Larangan Ekspor 2011

Jelajah Australia

Cerita Pahit Peternak Australia Saat Ada Larangan Ekspor 2011

Nograhany Widhi K - detikNews
Rabu, 11 Nov 2015 15:32 WIB
Cerita Pahit Peternak Australia Saat Ada Larangan Ekspor 2011
Foto: Nograhany WK
Darwin - Hubungan diplomatik Indonesia-Australia kadang naik-turun, termasuk dalam bidang ekonomi khususnya perdagangan sapi. Eksportir sapilah yang kena dampaknya, namun mereka memutar otak dan tetap tabah.

Saat Australia memutuskan menyetop ekspor sapi ke Indonesia pada 2011 lalu karena adanya masalah kesejahteraan hewan dalam rumah potong hewan, apa yang terjadi saat itu?

"Tak ada, tak ada yang terjadi. Di Northern Territory, Perth, Broome, ternak-ternak tak bergerak. Semua peternak, tak punya uang sama sekali," tutur GM  ASEAN Wellard Rural Exports Pty Ltd, Bernie Brosnan.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Bernie Brosnan (Foto: Nograhany WK)


Hal itu dikatakan Bernie saat diwawancara 2 media Indonesia, termasuk detikcom, di export yard (lapangan tempat pengumpulan sapi sebelum diekspor), 50 km di selatan Darwin, Northern Territory (NT) atas undangan Australia Plus ABC International pada September lalu.

Banyak peternak, imbuhnya yang akhirnya membunuh sapi-sapinya.

"Itu 4 tahun dari sekarang. Bagaimana harus bergerak maju, banyak peternak, karena tak bsia memberi makan ternaknya lagi, jadi dibunuh. Ada juga yang akhirnya disembelih dan diproses di selatan Australia untuk beef box. Pada 2013, Indonesia mengangkat kembali izinnya, dan menaikkan jumlah per kuartal, dan perdagangan kembali sehat," tuturnya.

Setelah tahun 2013, politik Jakarta-Canberra yang sering tegang, termasuk soal Bali Nine, hingga pada kuartal III-2015, Indonesia memutuskan mengurangi angka impor dari 200.000 ke 50.0000 sapi bakalan. Lantas, bagaimana responsnya?

"Saya tidak berpikir ini ada hubungan dengan relasi politik Jakarta-Canberra. Saya sungguh tak berpikir demikian, tidak dalam situasi suplai ternak sapi. Hubungan antara importir, feedlot dan eksportir di Australia sangat bagus, sudah berjalan sekitar 20-an tahun lebih," tutur Bernie.

Menurutnya sebagai eksporter, harus memutar otak untuk mencari pasar alternatif.  

"Kami sebagai eksportir, kami punya 4 kapal untuk mengangkut ternak, kami mencari pasar alternatif, itu susah, sangat susah. Rotasi kapal ke Indonesia itu setiap 10-15 hari, kembali ke Australia, angkut lagi. Kami harus bayar tiap hari kala tidak ada aktivitas bongkar muat, kami bayar ke pemilik kapal itu US$70 ribu-45 ribu per hari saat sandar," papar Bernie.

Kapal ternak pengangkut sapi (Foto: Nograhany WK)


Kalau kapalnya tak bergerak, imbuhnya, itu sangat besar dampaknya. Maka negara ASEAN lain selain Indonesia menjadi pasar alternatifnya.

Sebelumnya, peternak di NT, Markus Rathsmann juga mengungkapkan dampak dari penyetopan ekspor sapi ke Indonesia dari Australia pada 2011 terkait isu animal welfare sangat terasa.

"Ya ada efeknya sedikit banyak. Sapi sudah siap di peternakan, makin banyak sapi, makin banyak butuh rumput hijau atau pakan yang harus Anda sediakan. Jadi kami hanya mengkhawatirkan kesejahteraan mereka (ternak) di peternakan itu," tutur Markus.  

Kala ditanya bagaimana Markus menjaga arus uang (cash flow) nya, dia sempat meminjam ke bank. Namun, tidak banyak karena khawatir akan pendapatannya yang mampet.

Peternak sapi dari NT Australia, Markus Rathsmann (Foto: Nograhany WK)


"Untungnya pinjaman ke bank tidak banyak, jadi meski bukan masa tersulit dan kami tidak happy, kami pinjam untuk 2 bulan, jadi kami tak terlalu punya banyak utang," jelas dia.

Di tempat terpisah, Konsul Jenderal RI di Darwin, Andre Omer Siregar, mengatakan naik-turunnya hubungan Jakarta-Canberra memang dampaknya paling terasa di kawasan NT Australia. NT yang terletak di ujung utara Australia, paling dekat dengan Indonesia. Apalagi, kawasan ini memasok mayoritas sapi untuk diekspor ke Indonesia.

Konsul Jenderal RI di Darwin Andre Omer Siregar (Foto: Nograhany WK)


"Hubungan Indonesia-Australia selalu melibatkan 3 B, yakni Boat, Bali and Beef. Dan untuk beef, yang terbesar itu dari NT, besar sekali jumlahnya. Kebijakan yang diambil di Jakarta dan Canberra itu yang merasakan orang-orang NT. Canberra langsung ngeblok, Julia Gillard bilang 'tidak manusiawi' tapi yang menjerit petani di NT, yang rugi orang NT," tutur Andre.

Kasus penghentian ekspor sapi dari Australia tahun 2011 lalu, misalnya, para petani di NT baru bisa menutup kerugiannya tahun ini. Pada 2011 sempat ada laporan soal penanganan rumah potong hewan di Indonesia yang tak sesuai dengan animal welfare atau kesejahteraan hewan, sehingga membut pemerintah Australia memutuskan menghentikan ekspor, agar sapi-sapinya diperlakukan baik saat di rumah potong di Indonesia, seperti cara pemotongan dan lainnya.



Baca terus fokus Jelajah Australia, dan ikuti Hidden Quiz-nya!
Halaman 2 dari 1
(nwk/hen)


Berita Terkait