Inggris, Israel dan sejumlah sumber yang memahami penyelidikan menyatakan kemungkinan besar bom yang menyebabkan jatuhnya pesawat maskapai Rusia yang membawa 224 penumpang dan awak. Klaim itu memicu berbagai larangan terbang dari negara-negara Eropa, terutama Inggris dan Rusia.
Larangan itu memberi dampak buruk bagi sektor pariwisata di negara tersebut, yang merupakan salah satu sumber pemasukan negara bagi perekonomian Mesir yang terpuruk akibat konflik. Otoritas Mesir belum secara resmi mengambil kesimpulan soal penyebab jatuhnya pesawat.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Ini adalah upaya keterlaluan untuk menghukum Mesir secara ekonomi dan finansial untuk berbagai alasan politik, khususnya karena menghangatnya hubungan antara Mesir dengan Rusia dalam tiga tahun terakhir," tulis kolumnis Ashraf al-Ashmawy.
Al-Ahram juga mempublikasikan sebuah kartun yang menunjukkan seorang pria berbicara dengan seorang pemuda yang membahas insiden ini. "Apa yang terjadi sekarang mengingatkan saya pada agresi tripartit pada tahun 1956," ucap si pria merujuk pada invasi Prancis, Inggris dan Israel ke Mesir.
"Tentu," jawab si pemuda yang mengenakan kaos bertuliskan 'I love Egypt'.
Surat kabar Mesir lainnya memfokuskan kemarahan pada media Inggris yang sibuk memberitakan keamanan Bandara Sharm el-Sheikh, Sinai. Pada halaman depan media Mesir, ditampilkan sepatu boot militer yang menginjak kepala surat kabar Inggris seperti Independent, Daily Mail dan Daily Telegraph.
Surat kabar Al-Watan merilis artikel yang berisi komentar negatif terhadap Perdana Menteri Inggris David Cameron, yang diberi judul '3.000 komentar mengecam plot terhadap Mesir'. Surat kabar lainnya, Al-Shorouk, menampilkan berita utama berjudul 'Warga Inggris di Luxor: kami malu dengan sikap pemerintah kami'. (nvc/ita)











































