"Di sini muat sapi cepat, cuma butuh 10 jam. Di Indonesia, alat bongkarnya lebih kecil sehingga bisa sampai 2,5 hari," demikian kata CEO Northern Territory Livestock Exporter Association, Stuart Kemp menjawab pertanyaan detikcom tentang hambatan terbesar teknis ekspor-impor sapi ke Indonesia.
Stuart menyatakan hal itu saat menemani detikcom dan RCTI yang ke Pelabuhan Darwin, Northern Territory atas undangan Australia Plus ABC International untuk melihat proses pengapalan sapi ke Indonesia pada September 2015 lalu. Β
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Road Train yang bisa angkut 200 ekor sapi (Foto: Nograhany WK) |
Di belakangnya kepala road train itu, ada 3 kontainer terbuka yang mengangkut ternak sapi. 1 Kontainer terbuka itu terdiri dari dua lantai, yang masing-masing lantainya bisa menampung 30-35 ekor sapi.
Alhasil, 3 kontainer terbuka itu total bisa mengangkut sekitar 200 ekor.Β Masing-masing kontainer butuh waktu sekitar 10 menit untuk memuat sapi ke dalam kapal. Jadi, satu road train dengan 3 kontainer dua lantai butuh sekitar 30 menit waktu muat.
(Foto: Nograhany WK) |
"Saat Anda melakukan muat di sini, truknya mampu memuat sekitar 200 ekor sapi. Saat melakukan bongkar di Indonesia, truknya lebih kecil, mungkin hanya memuat 15-20 ekor per mobil, jadi bisa 2,5 hari," tutur Stuart.
Kedua, tentulah infrastruktur jalan yang baik. Tak mungkin road train, kendaraan berat dengan rangkaian yang panjang itu, bisa berjalan dengan mulus bila infrastruktur jalan, dari export yard (lapangan pengumpulan sapi) ke pelabuhan, tidak dalam kondisi bagus.
(Foto: Nograhany WK) |
detikcom menyaksikan dan merasakan mulusnya infrastruktur jalan-jalan di Northern Territory (NT) pada umumnya, terutama dari export yard ke pelabuhan.
Baca terus fokusΒ Jelajah Australia, dan ikutiΒ Hidden Quiz-nya!
Halaman 2 dari 1












































Road Train yang bisa angkut 200 ekor sapi (Foto: Nograhany WK)
(Foto: Nograhany WK)
(Foto: Nograhany WK)