Dalam pernyataannya, seperti dilansir AFP, Selasa (10/11/2015), Kementerian Pertahanan Rusia menyatakan beberapa jet tempur mengenai bengkel untuk kendaraan lapis baja di dekat wilayah Kfar Nabuda, Provinsi Hama yang menjadi markas militan Al-Nusra Front afiliasi Al-Qaeda.
Serangan udara lainnya mengenai target pusat komando milik Nusra Front di Zarbe, kemudian mengenai sebuah kamp pelatihan di dekat wilayah Kweyris, Aleppo dan sebuah gudang senjata besar di dekat Maheen, Provinsi Homs.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Kementerian Pertahanan Rusia juga menyebut adanya perubahan taktik dari kelompok-kelompok militan di Suriah, antara lain dengan mengubah rute penyaluran senjata dan amunisi, serta melakukan pergerakan hanya pada malam hari.
Kementerian Pertahanan Rusia mengklaim bahwa beberapa informasi soal target-target dalam serangan udara ini datang dari oposisi Suriah. Namun tidak disebut lebih lanjut kelompok oposisi yang mana yang bekerja sama dengan Rusia.
Rusia memulai serangan udara di wilayah Suriah pada 30 September lalu, dengan menyatakan target utama mereka adalah ISIS. Namun pada praktiknya, Amerika Serikat dan koalisi yang terlebih dahulu melancarkan serangan udara di Suriah, menyebut Rusia justru banyak menyerang kelompok moderat yang melawan rezim Presiden Bashar al-Assad.
Serangan udara Rusia di Suriah ini disebut-sebut oleh militan Wilayat Sinai sebagai alasan yang diklaim mereka untuk menyerang pesawat maskapai Rusia yang baru lepas landas dari Sharm el-Sheikh, Sinai, Mesir pada 31 Oktober lalu. Klaim itu sempat diragukan Mesir dan Rusia, namun kemudian militan ini kembali memberikan pernyataan yang isinya bersikeras bertanggung jawab. Kelompok yang berbasis di Sinai itu telah menyatakan sumpah setia terhadap ISIS pada November 2014 lalu. (nvc/nwk)











































