Mengintip Produksi Sapi Australia di Peternakan Seluas 40.000 Hektar

Jelajah Australia

Mengintip Produksi Sapi Australia di Peternakan Seluas 40.000 Hektar

Nograhany Widhi K - detikNews
Selasa, 10 Nov 2015 11:22 WIB
Mengintip Produksi Sapi Australia di Peternakan Seluas 40.000 Hektar
Foto: Nograhany WK
Darwin - Markus Rathsmann (55), peternak sapi indukan di Mount Ringwood Station, Adelaide River, Northern Territory (NT), Darwin, Australia menjelaskan proses pengembangbiakan sapi. Peternakannya seluas 40.000 hektar harus ditempuh 2 jam dari Kota Darwin.

"Di peternakan saya kini, ada 1.800 ekor sapi indukan," tutur Markus kala ditemui 2 media Indonesia, termasuk detikcom yang ke Australia atas undangan Australia Plus ABC International pada September 2015 lalu.

Menurut Markus, mayoritas sapi indukannya berdarah campuran Boran-Brahman. Boran adalah jenis sapi keturunan Afrika yang terkenal subur dan lebih cepat dewasa. Jenis sapi Boran ini memiliki banyak kesamaan dengan jenis sapi Brahman, sapi yang diekspor ke Indonesia.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

(Foto: Nograhany WK)


"Kami pilih sapi yang bagus kesuburannya untuk hamil. Dari uji pengalaman, tingkat kesuburannya 45 persen, untuk sapi berusia 1 tahun bisa memiliki 1 atau 2 ekor anak sapi," imbuh Markus yang sudah memulai proses breeding sapi sejak 13 tahun lalu dengan membeli pejantan dari program breeding Pemerintah NT.

Untuk membuat 1.800 sapi betina hamil, Markus melepaskan sapi pejantan dengan jumlah 4 persen dari 1.800, atau sekitar 70-an pejantan, atau bila dirasiokan, 1 pejantan untuk 25 betina. Markus membiarkan proses perkawinan secara alami, bukan melalui inseminasi buatan.

"Saya selalu mencampurkan betina dengan pejantan, tak ada yang buatan. It's a mother nature (proses alami). Itu urusan mereka, saya tak mau ikut campur," tuturnya membuat kami terkekeh.

Markus mengkondisikan ternak-ternaknya berkumpul saat musim hujan dan udara menjadi lebih dingin. Itu biasanya di kuartal terakhir tiap tahun. Januari, pejantan ditarik kembali.

Sapi-sapi yang diusahakan untuk hamil adalah sapi yang sudah berusia 1 tahun. Setelah dikumpulkan dan hamil, sapi mengandung anaknya selama 9 bulan.

Anak sapi baru lahir yang ada di peternakan Markus Rathsmann (Foto: Nograhany WK)


"Jadi, sapi berusia 2 tahun diusahakan sudah memiliki 1 anak sapi," tutur Markus.

Setelah melahirkan anak sapi pertama, induk sapi biasanya sangat sulit untuk memiliki anak kedua. Karena kehamilan dan kelahiran pertama membuat sapi betina stres dan membutuhkan banyak nutrisi.

Maka, induk sapi diberikan jeda 1 tahun dan tetap dipelihara. Setelah 1 tahun, sapi betina itu dikumpulkan kembali dengan pejantan dan diusahakan hamil kembali. Di tahun keempat, diharapkan sapi betina sudah memiliki anak kedua.

"Untuk hamil anak kedua memang susah, maka kami memberi jeda satu tahun. Setelah dia bisa hamil anak kedua, biasanya mudah untuk punya anak ketiga, keempat dan seterusnya. Dan kami mengharap untuk melahirkan anak tiap tahun," tuturnya.

Bila sapi betina tak kunjung hamil memasuki tahun keempat, maka Markus akan mengadakan tes kesuburan dan tes kehamilan. Di sini lah Markus memutuskan dan memilah apakah sapi betina itu akan terus dipelihara, atau disteril dan berakhir di rumah potong hewan.

Sapi-sapi betina yang akan disteril (Foto: Nograhany WK)


Bagaimana cara memilih sapi yang bagus kesuburannya?

"Dengan tes kehamilan. Ada pula penampakan sapi yang istimewa, biasanya yang kecil badannya. Kalau sapi betina badannya besar itu biasanya tidak subur. Tidak bagus kesuburannya," jawab Markus.

Sapi yang hamil dibiarkan merumput di padang savana, mencari makan dengan bebas. Namun karena saat itu rumput-rumput mengering, Markus harus menyediakan ekstra protein untuk dimakan sapi-sapi yang subur berupa cotton seeds, biji-bijian lain, garam, potassium dan lain-lain. Dan upaya menyediakan protein itu merupakan biaya tersendiri yang bisa mencapai AUS$ 100 per ekor per tahun.



"Yang paling penting kami menyediakan protein lebih banyak dari campuran biji kapas, fosfor, potassium, garam. Ini musim kering dan tantangannya adalah menjaga tubuh mereka tetap bagus," jelas dia.

Sedangkan sapi betina yang dinilai tak steril, dipisahkan, dimasukkan ke kandang beratap untuk disuntik steril melalui telinga. Ada sekitar puluhan sapi betina yang disteril untuk diserahkan ke rumah potong hewan atau diekspor.

(Foto: Nograhany WK)


Selain mengembangbiakkan 1.800 sapi indukan, Markus juga membeli sekitar 2.000 sapi jantan muda dan betina untuk digemukkan dan dijual kembali.

Sapi-sapi yang telah disteril dan 2.000 sapi untuk dijual kembali kemudian digemukkan lagi. Bila bulan basah dan rumput menghijau, biasanya Markus akan melepaskan begitu saja ternak-ternaknya di tanah peternakan miliknya yang luas dan terbagi dengan patok-patok yang disebut paddock.

Mereka digembalakan ke rawa-rawa milik tetangga peternaknya untuk digemukkan. Markus menyewa rawa penuh rumput hijau itu untuk menggemukkan sapinya. Meski julukannya 'tetangga', dalam kenyataan, lahan peternakan itu bisa belasan bahkan puluhan kilometer jauhnya, dengan luas ratusan kilometer persegi.
 
"Kami menggemukkannya selama 3 bulan agar bobotnya bertambah hingga 60 kg," tutur Markus.  

Setelah itu, sapi yang sudah digemukkan akan diambil oleh pengepul eksportir atau rumah potong hewan domestik. Sapi milik Markus dihargai per kilogram bobot hidup AUS$ 2,7. Sapi-sapi milik Markus bisa memiliki berat di atas 250 kilogram hingga 300 kilogram.

Markus juga mengeluarkan banyak biaya untuk menggembalakan ternak ke rawa-rawa. Menggembalakan ribuan sapi dengan jarak yang jauh dengan 3 orang pekerja termasuk dirinya, juga tak mudah.

Dengan kondisi demikian, Markus mengaku peternakannya tidak untung selama 10 tahun terakhir, hanya pas untuk balik modal. Dia sempat untung tahun 2014 karena marjin jual-beli ternak.

Peternak Markus Rathsmann (Foto: Nograhany WK)


"10 Tahun terakhir, kami mengembangkan properti (membeli lahan ternak) sehingga tak untung, hanya break even (impas). 2014 Kami untung dari selisih jual beli ternak," jawab Markus yang dikonfirmasi ulang detikcom via email.

Penasaran bagaimana Markus menggembalakan ternaknya? Ikuti terus kisahnya dalam "Jelajah Australia".



Baca terus fokus Jelajah Australia, dan ikuti Hidden Quiz-nya!
(nwk/hen)


Berita Terkait