"Kemungkinan aksi terorisme tentu ada, sebagai alasan apa yang telah terjadi," ucap Perdana Menteri Rusia, Dmitry Medvedev dalam wawancara dengan surat kabar nasional Rusia, Rossiyskaya Gazeta dan dilansir AFP, Selasa (10/11/2015).
Inggris dan juga Amerika Serikat, bersama dengan penyidik internasional, mencurigai pesawat jenis Airbus A-321 itu jatuh akibat ledakan bom yang diselundupkan oleh seseorang ke dalam pesawat. Kecurigaan bom itu mengarah pada militan Islamic State of Iraq and Syria (ISIS) yang berbasis di Sinai.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Namun sejak Jumat (6/11), Presiden Vladimir Putin memerintahkan penghentian sementara seluruh penerbangan ke Mesir dengan alasan keamanan. Terhadap hal itu, PM Medvedev menyatakan, penyelesaian isu keamanan penerbangan dengan Mesir akan memakan banyak waktu.
"Saya sudah mengatakannya hari ini, dalam rapat dengan wakil perdana menteri, bahwa kita tidak seharusnya hanyut dalam ilusi. Isu-isu ini, yang berkaitan dengan keamanan, tidak akan bisa diselesaikan secara cepat. Oleh karena itu, kemungkinan ini akan memakan waktu lebih lama. Pergerakan turis akan ditentukan oleh hal ini," tutur Medvedev seperti dilansir media Rusia, Sputnik.
Rusia sebelumnya mengkritik Inggris karena tidak berbagi informasi intelijen soal dugaan pesawat jatuh karena bom. Namun dalam pernyataannya, pihak Kementerian Luar Negeri Inggris mengaku telah berbagi informasi intelijen dengan mitra-mitranya, termasuk Rusia. (nvc/ita)











































