Dilansir AFP, Minggu (8/11/2015), setelah 42 hari tanpa ada kasus baru, epidemi negara Afrika Barat itu dinyatakan berakhir pada sebuah upacara yagn dihadiri oleh Presiden Erners Bai Koroma dan perwakilan World Health Organization (WHO) PBB, Anders Nordstrom.
Ribuan orang berkumpul di sekitar Cotton Tree, sebuah pohon besar di tengah Freetown. Mereka menyalakan lilin yang dikoordinir oleh kelompok perempuan yang berdoa bagi tenaga kesehatan yang telah tiada.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Orang pertama yang selamat dari Ebola, Victoria Yillia sempat memberikan beberapa kalimat. Dia mengaku 'bahagia wabah yang hampir merenggut nyawanya akhirnya berakhir". Dia mengimbau pada pemerintah untuk tidak melupakan orang-orang yang selamat, yang sebagian besar menghadapi stigma sosial dan masalah kesehatan.
Di bagian lain di kota, warga merayakan wabah yang membuat sekolah libur, membuat sistem pusat kesehatan kewalahan dan mengganggu ekonomi lokal.
"Kami bahagia. Saya merasa bebas kembali setelah sebuah peradaban Ebola," ucap seorang pedagang bernama Joseph Katta.
Ebola telah membunuh lebih dari 11.300 orang di Sierra Leone, Liberia, Guinea sejak epidemi itu diumumkan pada Maret 2014 dan sekitar 28.500 orang terinfeksi, menurut data WHO. Korban tewas di Sierra Leone sekitar 3.955 orang.
Liberia dinyatakan bebas dari Ebola pada 3 September, sementara beberapa kasus tetap muncul di Guinea. (dhn/dhn)











































