Wajar jika pemerintah Jerman habis-habisan untuk program "anti keluarga berencana" ini. Lantaran warganya kurang bersemangat punya anak. PBB meramal, pada tahun 2050 jumlah warga Jerman susut menjadi 70 juta orang dari 82 juta orang pada 2012. Jerman merupakan salah satu negara dengan tingkat kelahiran paling rendah di Eropa.
Jika survei mingguan Die Zeit jadi rujukan, pemerintah Jerman mestinya tidak perlu menghamburkan triliunan rupiah anggaran untuk subsidi bagi keluarga yang hendak punya bayi atau menambah anak. Mereka hanya perlu lebih sering menghelat Piala Dunia sepakbola. Menutur survei Die Zeit, sembilan bulan setelah Piala Dunia 2006, klinik-klinik persalinan di Jerman lebih ramai ketimbang hari-hari lain.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Pemain Timnas Jerman PhilipLahm |
Pia Schmidt dari kota Verena, Jerman, sudah dua tahun berusaha punya bayi namun tidak kunjung berhasil. Saat tim nasional Jerman menekuk Polandia 1-0, menjadi saat-saat menentukan bagi Pia dan suaminya. "Kami mengundang beberapa teman, membuat barbecue, dan semua orang senang," kata Pia kepada Der Spiegel. Setelah semua teman pulang ke rumah, mereka memutuskan merayakan kemenangan Jerman dengan bermesraan. Dan sembilan bulan kemudian, Pia melahirkan bayi.
"Piala Dunia membuat semua orang senang selama sebulan dan meningkatkan hormon-hormon positif yang menambah gairah mereka untuk berhubungan seksual," kata Rolf Kliche, dokter spesialis kebidanan di Klinik Dr. Koch seperti dikutip Guardian.
"Seandainya kita bisa menyelenggarakan Piala Dunia setiap tahun, aku pikir itu bakal menjadi jawaban atas masalah rendahnya angka kelahiran di Jerman."
Foto: Ralph Orlowski |
Euforia Piala Dunia rupanya tidak cuma menambah gairah untuk punya anak, tapi juga berpengaruh pada jenis kelamin bayi yang dilahirkan. Riset oleh Gwinyai Masukume, peneliti dari Universitas Witwatersrand, Afrika Selatan, dan Victor Grech dari Universitas Malta, Piala Dunia 2010 di Afrika Selatan membuat jumlah bayi laki-laki lahir lebih banyak ketimbang bayi perempuan. Mereka mempublikasikan hasil risetnya di Jurnal Early Human Development, pekan lalu.
Sembilan bulan setelah tim nasional Spanyol menjadi juara Piala Dunia 2010, rasio seks bayi lahir di Afrika Selatan naik menjadi 50,6 persen, tertinggi sejak 2003. Artinya, ada sekitar 1100 bayi laki-laki lahir lebih banyak ketimbang rata-rata biasanya. Gwinyai sangat yakin, naiknya rasio seks itu disebabkan oleh gairah Piala Dunia.
"Makin sering pasangan berhubungan seks, maka makin besar kemungkinan bayi yang dilahirkan berjenis kelamin laki-laki," kata Gwinyai kepada Mail & Guardian. Hal itu, menurut dia, berhubungan dengan siklus menstruasi perempuan. Jika hubungan dilakukan pada awal atau akhir masa subur sang ibu, besar kemungkinan bayi yang dilahirkan laki-laki. Sebaliknya jika dilakukan pada pertengahan masa subur, kemungkinan besar si kecil akan berjenis kelamin perempuan.
Thinkstock |
Penelitian lain oleh Misao Fukuda dan Kiyomi Fukuda dari Institut Kesehatan M&K, Jepang, juga menunjukkan stres erat kaitannya dengan rasio seks pada kelahiran bayi. Misao dan Kiyomi meneliti pengaruh gempa besar Kobe pada Januari 1995. Riset mereka menemukan fakta, sembilan bulan setelah gempa besar itu, jumlah bayi perempuan yang lahir di Kobe lebih banyak ketimbang bayi laki-laki. (sap/iy)












































Pemain Timnas Jerman PhilipLahm
Foto: Ralph Orlowski
Thinkstock