Tak Ada Kursi untuk Muslim di Myanmar

Jelang Pemilu Myanmar

Tak Ada Kursi untuk Muslim di Myanmar

Sapto Pradiptyo - detikNews
Jumat, 06 Nov 2015 11:28 WIB
Tak Ada Kursi untuk Muslim di Myanmar
Muslim di Myanmar (Foto: Soe Zeya Tun)
Burma - Setahun lalu, seorang mitra usaha menelepon Lwin Tun dan memintanya mendirikan pabrik pengolahan daging di Labutta, sebuah kota di Delta Irrawaddy, Myanmar. Dia sudah menghabiskan duit 425 juta Kyat Myanmar atau hampir Rp 4,5 miliar untuk mendirikan bangunan dan membeli mesin pendingin, tapi ada satu masalah besar.

Tidak ada pasokan daging sapi yang bisa dia olah. Tujuh rumah jagal sapi yang ada di Labutta mendadak tutup semua. Pemerintah kota Labutta tak memperpanjang izin mereka, tapi malah mengalihkan izinnya ke perusahaan lain yang dekat dengan Ma Ba Tha alias Organisasi Perlindungan Ras dan Agama yang didirikan oleh sejumlah Bhiksu. Tak ada setoran daging, perusahaan Lwin Tun gulung tikar sebelum sempat dibuka.

Ada satu kesamaan antara Lwin Tun dan para pengusaha rumah jagal sapi : mereka semua muslim. Selama beberapa tahun terakhir, Lwin Tun dan teman-temannya sulit tidur dengan nyenyak. "Ma Ba Tha terus berkampanye untuk memboikot perusahaan-perusahaan milik pengusaha muslim....Pamflet ditebar dan polisi tahu tapi mereka hanya berpangku tangan," kata Lwin Tun kepada Irrawaddy, dua bulan lalu.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Untuk "mencekik" bisnis rumah-rumah jagal, aktivis Ma Ba Tha telah mendapatkan izin dari pemerintah Labutta mengirimkan sapi-sapi yang mereka sita paksa ke Provinsi Arakan. Kampanye Ma Ba Tha ini membuat muslim di Delta Irrawaddy kesulitan menunaikan ibadah kurban saat Idul Adha lalu.

"Kampanye Ma Ba Tha terang-terangan melanggar hak paling dasar kami untuk beribadah," kata Al Haji Ale Lwin, Ketua Islamic Centre di Rangoon. Menurut Haji Aye, gara-gara kampanye negatif Ma Ba Tha, bisnis pengusaha-pengusaha muslim menanggung rugi tak sedikit.

Muslim di Myanmar/Reuters


Kyaw Sein Win, juru bicara Ma Ba Tha, berkilah, mereka hanya ingin menyelamatkan makhluk hidup. Satu ajaran pokok dalam agama Buddha. "Kami tak bermaksud dengan sengaja mengincar bisnis pengusaha muslim...Mereka berniat membunuh binatang untuk mendapatkan untung. Itu lah yang membedakan kami dengan mereka," kata Sein Win.

Target kampanye Ma Ba Tha berikutnya, menurut Bhiksu Wirathu, pemimpin Biara Ma Soe Yein di Mandalay, adalah pelarangan hijab dan penyembelihan hewan kurban. Ma Ba Tha berniat melobi pemerintah supaya menghentikan penyembelihan hewan kurban.

"Penyembelihan hewan ternak mengenalkan pemuda muslim dengan darah. Jika mereka menginginkan perdamaian, mereka harus berhenti menyembelih binatang," kata Biksu Wirathu kepada Reuters.

Atas "lobi" Ma Ba Tha, pemerintah negara bagian Mandalay menerbitkan edaran mengimbau umat muslim mengganti sapi dengan kambing untuk kurban. "Kami merasa sangat tidak nyaman menyaksikan sapi-sapi, termasuk sapi untuk membajak sawah, disembelih....Setiap tahun kami kehilangan banyak sekali sapi, teman sejati petani dan manusia," Ma Ba Tha menulis dalam surat permohonan mereka.

Pendukung NLD di Myanmar/Reuters


Dari sekitar 51 juta penduduk Myanmar alias Burma, sekitar lima persen beragama Islam. Sudah lama ada "api" di antara umat Islam dan penganut Buddha di Myanmar. Bermula dari pertengkaran sporadis antara warga muslim Rohingya dengan mayoritas suku Rakhine beragama Buddha di kota Sittwe pada pertengahan 2012, konflik itu meluas ke pelbagai daerah di Myanmar. Ribuan keluarga minoritas muslim Rohingya terusir dari kampungnya dan kini terpaksa tinggal di pengungsian. Hidup mereka terancam dan tak bebas bergerak. Hak mereka dilucuti habis-habisan.

Ada sekitar 1,3 juta keturunan Rohingya di Myanmar dan leluhur mereka sudah ratusan tahun tinggal di Myanmar, namun Rohingya tak pernah benar-benar diterima di tanah kelahirannya sendiri. Rohingya tak termasuk di antara 135 suku yang diakui pemerintah Myanmar.

Dalam sensus penduduk pada Maret 2014 lalu, pemerintah Myanmar menyebut mereka keturunan Bengali dan mengharamkan penggunaan sebutan Rohingya. Istilah Bengali ini biasa dipakai pemerintah Burma bagi para imigran gelap dari Bangladesh. "Jika satu keluarga ngotot didaftarkan sebagai Rohingya, kami tak akan mencatatnya," kata Ye Htut, juru bicara pemerintah, kala itu. Tak diakui sebagai penduduk, jutaan muslim Rohingya kehilangan hak suara.

Masjid di Myanmar


Dari konflik Rohingya, urusan itu merembet ke warga muslim lain non-Rohingya. Sudah tiga tahun Soe Hlaing tinggal di tenda pengungsian di luar kota Sittwe, negara bagian Rakhine. Saat pecah konflik antara muslim Rohingya dengan komunitas Buddha pada 2012, dia turut terusir. Padahal Soe Hliang bukan muslim Rohingya, tapi muslim dari suku Kaman, satu di antara 135 suku yang diakui pemerintah Burma.

Tak seperti muslim Rohingya, muslim Kaman tercatat sebagai penduduk Myanmar, sehingga bisa memberikan suara dalam Pemilihan Umum nanti. Tapi Soe Hlaing pilih tak menggunakan hak suaranya sebagai solidaritas terhadap saudara-saudaranya Rohingya. "Kecuali semua orang bisa memberikan suara, aku tak akan memakai hak pilihku," kata Soe Hlaing kepada Reuters.

Sebagian muslim berharap pada Aung San Suu Kyi, pemimpin Partai Liga Nasional untuk Demokrasi (NLD) jika dia bisa memenangkan pemilihan umum. "Kami tinggal punya sedikit harapan....Kami berharap, jika Suu Kyi menang, kami akan mendapatkan hak yang sama dengan warga Myanmar lain," kata Win Naing, 41 tahun, warga Thandwe di Rakhine.

Suu Kyi (foto: Soe Zeya Tun)


Tapi tak sedikit pula yang tak yakin Suu Kyi akan membawa perubahan bagi nasib muslim di Myanmar. "Jika dia menang pemilu, kondisinya bakal tambah buruk bagi kami. Masalah kami, aku pikir bukan jadi hal penting bagi Suu Kyi. Menurutku dia orang yang egois," kata Amin, muslim di Aung Mingalar, Rakhine, kepada Channel News Asia. Beberapa temannya turut menganggukkan kepala.

Wajar jika muslim Myanmar ragu kepada Suu Kyi. Saat ribuan muslim Rohingya dianiaya, Suu Kyi tak bersuara. Dia selalu berkilah ingin bersikap netral. Tapi dalam pemilu kali ini pun, Suu Kyi juga tak memberi tempat bagi kandidat anggota parlemen muslim di NLD. Dari 1.151 calon anggota parlemen dari NLD, tak satu pun beragama Islam. Di daftar milik Partai Pembangunan dan Persatuan Solidaritas (USDP), partai yang disokong penguasa, juga tak ada satu orang pun kandidat muslim.

Seorang sumber menuturkan kepada Al-Jazeera, untuk menghindari permusuhan dengan Ma Ba Tha, Suu Kyi meminta semua nama kandidat muslim disetip dari daftar yang dikirim ke Komisi Pemilihan Umum. Tapi Win Mya Mya, salah satu kandidat NLD yang disetip namanya, tak kecewa dengan kebijakan Suu Kyi. "Aku siap mati untuk NLD," kata Win Mya seperti dikutip Guardian. Kepercayaannya terhadap Suu Kyi juga tidak luntur. "Jika NLD menang, pemimimpin kami Aung San Suu Kyi tak akan pernah mendiskriminasikan agama lain."

(sap/mad)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads