Kabar Bom di Pesawat Rusia Didapat AS dan Inggris dari Sadapan ISIS

Kabar Bom di Pesawat Rusia Didapat AS dan Inggris dari Sadapan ISIS

Novi Christiastuti - detikNews
Jumat, 06 Nov 2015 10:08 WIB
Kabar Bom di Pesawat Rusia Didapat AS dan Inggris dari Sadapan ISIS
Pesawat Metrojet jenis Airbus A-321 yang jatuh di Mesir (REUTERS/Marina Lystseva)
London - Pernyataan Amerika Serikat dan Inggris soal pesawat maskapai Rusia, Metrojet, jatuh karena bom menggemparkan publik. Sebenarnya apa yang mendasari keyakinan kedua negara hingga mereka berani mengungkapkan hal ini ke publik?

Dilaporkan surat kabar Inggris, The Times seperti dilansir AFP, Jumat (6/11/2015), bahwa operasi intelijen gabungan AS dan Inggris mencapai titik terang setelah menyadap komunikasi antara Islamic State of Iraq and Syria (ISIS) yang ada di Suriah dengan yang ada di Mesir.

"Menggunakan satelit untuk mengungkap komunikasi elektronik (antara kedua pihak)," sebut The Times dalam laporannya.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Nada dan isi pesan meyakinkan analis bahwa ada bom yang dibawa ke dalam pesawat oleh seorang penumpang atau seorang staf lapangan bandara," imbuh laporan itu tanpa menyebut lebih lanjut sumbernya.

Seorang juru bicara Perdana Menteri Inggris David Cameron menolak mengomentari laporan ini. "Kami tidak akan berbicara lebih jauh soal persoalan intelijen," ucap juru bicara itu.

Media Inggris lainnya, The Telegraph, melaporkan bahwa informasi intelijen penting mulai tersingkap setelah badan intelijen AS dan Inggris memeriksa kembali komunikasi antara kelompok-kelompok radikal di wilayah Sinai, Mesir.

"Pemeriksaan mengungkapkan 'obrolan' beberapa hari sebelum kecelakaan yang merujuk pada rencana serangan," sebut The Telegraph dalam laporannya, juga tanpa menyebut sumber informasi tersebut.

Otoritas AS dan Inggris sebelumnya kompak menyebut ledakan bom di dalam pesawat menjatuhkan pesawat jenis Airbus A-321 yang terbang dari Sharm el-Sheikh menuju ke St Petersburg, Rusia pada Sabtu (31/10). Pernyataan ini ditegaskan kembali oleh Presiden AS Barack Obama dan PM Inggris David Cameron pada Kamis (5/11) waktu setempat. (nvc/mad)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads