Dilansir dari New York Times, Jumat (6/11/2015), Obama mengatakan dalam sebuah wawancara di radio, bahwa mungkin di dalam pesawat ada sebuah bom. Namun dia tidak terlalu sependapat dengan rekannya di Inggris yang mengatakan bahwa penghancuran pesawat dan kematian tersebut akibat ledakan yang dilakukan oleh teroris.
"Saya tidak berpikir bahwa kita sudah tahu," kata Obama di Stasiun Radio Seattle Kiro selama wawancara yang disiarkan pada Kamis sore.
"Setiap kali Anda mengetahui kecelakaan pesawat tersebut, pertama-tama Anda akan memastikan akan ada penyelidikan di lokasi. Saya berpikir bahwa kemungkinan ada bom di pesawat tersebut. Dan ini merupakan permasalahan serius," lanjutnya.
Obama juga menambahkan bahwa intelijen AS akan melakukan penyelidikan terkait tragedi ini. "Kami menghabiskan banyak waktu untuk memastikan bahwa penyidik dan badan intelijen kami memeriksa secara persis apa yang terjadi sebelum kita membuat pernyataan definitif. Tetapi tentu saja mungkin ada bom di pesawat tersebut,".
Sehari sebelumnya di Gedung Putih, para pejabat setempat menyatakan bahwa Amerika Serikat memiliki tekad yang kuat untuk menyelidiki kecelakaan di bandara Sharm el Sheikh. Namun tidak dikesampingkan juga bahwa diduga ada bom dalam pesawat yang jatuh dan menewaskan 224 penumpang tersebut.
"Kita tidak bisa mengesampingkan apa pun, termasuk kemungkinan terorisme," ujar juru bicara Gedung Putih Josh Earnest, kepada wartawan di Washington.
Pada Kamis sebelumnya di London, Perdana Menteri David Cameron mengatakan bahwa kejadian ini lebih mungkin terjadi karena bom yang dilakukan oleh teroris. Hal itu diungkapkan saat Dia mengumumkan rencana pemulangan warga Inggris dari bandara Sharm el Sheikh.
Indikasi yang pertama yang dilontarkan Obama adalah bahwa jatuhnya pesawat Rusia mungkin disebabkan oleh sesuatu yang lebih dari kerusakan teknis. Para pejabat Amerika pun berulang kali mengatakan bahwa penyebab kecelakaan itu masih diselidiki. (yds/bar)











































