"Tim penyidik belum mendapatkan bukti maupun data yang mengkonfirmasi teori itu," tegas Menteri Penerbangan Sipil Mesir, Hossam Kamal, dalam pernyataannya seperti dilansir AFP, Kamis (5/11/2015).
"Teori adanya ledakan di dalam pesawat Rusia tidak didasarkan pada fakta. Mesir berkomitmen penuh pada penyelidikan menyeluruh, demi mendapatkan fakta-fakta di mata seluruh dunia," imbuhnya. Β
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Seluruh bandara di Mesir memenuhi standar internasional untuk urusan keamanan," sebutnya.
Dalam pernyataannya, Kamal menyatakan aktivitas penerbangan berlangsung normal di Bandara Internasional Sharm el-Sheikh. Untuk Kamis (5/11) waktu setempat, disebut Kamal, ada sekitar 23 pesawat yang mendarat dari Rusia, kemudian 8 pesawat dari Ukraina, 3 pesawat dari Italia dan dua pesawat dari Arab Saudi, serta ditambah kedatangan 22 pesawat rute domestik.
Sebelumnya, Inggris dan AS kompak menyebut kemungkinan besar pesawat Rusia dijatuhkan oleh ledakan bom yang diselundupkan ke dalam pesawat. Bahkan dituturkan seorang pejabat AS kepada CNN, bahwa ada seseorang di Bandara Internasional Sharm el-Sheikh yang membantu menyelundupkan bom ke dalam pesawat.
"Bandara memiliki keamanan yang longgar. Bandara ini (Sharm el-Sheikh) dikenal dengan hal itu. Tapi ada informasi intelijen yang menunjukkan adanya bantuan dari seseorang di bandara," sebut pejabat yang enggan disebut namanya ini. (nvc/mad)











































