"Saya pikir agak prematur untuk memberikan pernyataan terkait apa yang mungkin ataupun tidak mungkin terjadi pada pesawat sebelum penyelidikan selesai dan sebelum ada penyebab pasti kecelakaan ini," tegas Menteri Luar Negeri Mesir, Sameh Shoukry kepada CNN dan dilansir media setempat, Ahram Online, Kamis (5/11/2015).
"Ini tergantung pada penyelidikan untuk mengklarifikasinya dan kita seharusnya tidak berprasangka atau mengambil tindakan yang bisa berpengaruh. Berpengaruh pada hal lainnya, faktanya sejumlah besar warga Mesir sangat bergantung pada industri pariwisata," ucapnya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Sementara penyelidikan terus berlanjut, kami tidak bisa secara pasti mengatakan mengapa pesawat Rusia jatuh. Tapi seiring lebih banyak informasi yang muncul, kami khawatir bahwa pesawat itu mungkin telah dijatuhkan oleh bahan peledak," demikian pernyataan kantor PM Cameron.
Pernyataan itu diperkuat oleh Menteri Luar Negeri Inggris Philip Hammond yang berbicara usai menghadiri rapat komisi penanggulangan krisis yang dipimpin PM Cameron. "Kami telah menyimpulkan bahwa ada kemungkinan besar kecelakaan ini disebabkan oleh bahan peledak di dalam pesawat," ucapnya.
Pernyataan ini diikuti dengan keputusan Inggris untuk menghentikan sementara aktivitas penerbangan dari dan ke Sinai, Mesir. Menurut otoritas Inggris, pihaknya masih merundingkan dengan pihak maskapai dan otoritas Mesir soal langkah pengamanan tambahan dan opsi pemulangan warga Inggris yang kini terjebak di Sharm el-Sheikh, Sinai.
Jika benar pesawat Rusia jatuh karena sabotase, maka akan menjadi pukulan telak bagi pariwisata di Mesir, yang sangat sensitif terhadap serangan militan pada warga asing. Industri wisata Mesir menjadi salah satu pilar ekonomi negara ini dan tengah berjuang menuju pemulihan usai kerusuhan politik sejak Hosni Mubarak lengser pada tahun 2011 lalu. (nvc/ita)











































