Anak Dikurung dalam Ember Tertutup, Pria Israel Diamankan

Anak Dikurung dalam Ember Tertutup, Pria Israel Diamankan

Rahma Lillahi Sativa - detikNews
Kamis, 05 Nov 2015 13:15 WIB
Anak Dikurung dalam Ember Tertutup, Pria Israel Diamankan
Foto: Ilustrasi/Thinkstock
Tel Aviv, - Memberi hukuman kepada anak kadangkala perlu dilakukan agar anak jera dan tidak mengulangi kenakalan yang sama. Tetapi akan lebih baik bila hukuman yang diberikan juga dipilih dengan bijak.

Meski begitu, masih ada saja orang tua yang menghalalkan segala cara untuk menghukum anaknya, misalnya dengan menggunakan cara-cara kekerasan. Seperti halnya yang terjadi di Israel ini.

Baru-baru ini sebuah video tentang aksi seorang ayah yang berusaha menghukum anaknya dengan cara ekstrim telah menggemparkan publik Israel.
Β 
Dalam video itu terlihat jelas ada seorang pria yang memasukkan anak perempuannya, yang diperkirakan masih balita ke dalam sebuah ember plastik besar. Ia seakan tak peduli meski si anak sudah meronta-ronta minta dilepaskan. Karena kalah kuat dengan ayahnya, si kecil pun akhirnya hanya bisa pasrah ketika tubuhnya dimasukkan ke dalam ember.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Setelah tubuhnya masuk, kepala si kecil kemudian didorong lebih dalam oleh ayahnya, agar ember itu dapat ditutup rapat. Padahal ember itu sendiri tidak memiliki celah atau lubang agar setidaknya si kecil dapat bernapas di dalamnya.

Dari video yang sama juga sempat terdengar ucapan si pria Israel yang bermaksud membawa putrinya ke penjual daging karena 'ia sudah menyerah'. Namun ketika ditanya, pria ini bersikeras bahwa itu adalah caranya 'mendidik' anak-anaknya.

Akhirnya video itu pun sampai ke tangan polisi. "Ini adalah salah satu video yang paling mengejutkan yang pernah kami terima. Ini tidak masuk akal," kata juru bicara kepolisian seperti dikutip dari Israel National News, Kamis (5/11/2015).

Polisi kemudian mendatangi rumah ayah dua anak yang diperkirakan berada di kota Abu Gosh, barat Jerusalem tersebut, lalu mengamankannya.

Psikolog anak dan remaja Ratih Zulhaqqi, M.Psi. dari RaQQi pernah mengingatkan bahwa sebaiknya anak tidak diperkenalkan pada konsep hukuman, melainkan konsekuensi. Yang namanya konsekuensi tentu harus nyambung antara sebab dengan akibatnya.

"Anak nggak mau makan lalu dihukum dengan dikurung di kamar, itu kan nggak nyambung. Nggak mandi tepat waktu lalu dicubit, uang jajannya nggak dikasih. Itu kan nggak nyambung," ujar Ratih kepada detikcom beberapa waktu lalu.

Gantilah dengan memberikan konsekuensi sesuai perilaku anak, semisal anak yang mandi tidak tepat waktu maka dipotong jatah waktunya menonton televisi atau bahkan tidak diperbolehkan menonton TV sama sekali karena mereka harus mengerjakan kegiatan lain yang sudah terjadwal.

Atau saat anak mogok makan, konsekuensinya adalah ia tidak akan dibelikan camilan kesukaannya, atau camilan itu baru boleh dimakan setelah si anak mau makan nasi lagi.

"Sebaliknya jika anak sekadar dihukum, meskipun tujuan orang tuanya untuk membuat anak jera, tapi anak jadi tidak tahu konsekuensi. Semua tindakannya hanya akan didasarkan pada hukuman itu," pungkasnya. (ita/ita)


Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads