Seperti dilansir Reuters, Rabu (4/11/2015), juru bicara Kementerian Penerbangan Sipil Mesir, Mohamed Rahmi memastikan tidak ada panggilan darurat yang diberikan pilot sebelum pesawat jatuh pada Sabtu (31/10). Puing pesawat jenis Airbus A-321 itu ditemukan tersebar di area gurun sejauh 3 kilometer.
"Tidak ada komunikasi dari pilot yang terekam di pusat navigasi untuk meminta suatu hal," tutur Rahmi kepada Reuters.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sumber dari komisi penyelidikan insiden ini menuturkan, rekaman penerbangan dalam kondisi baik sehingga diharapkan bisa memberi banyak petunjuk. Ditambahkan Rahmi, sejauh ini belum ada bukti konkret yang menunjukkan pesawat hancur saat masih mengudara.
"Ini akan menjadi proses yang panjang dan kita tidak bisa membahas hasilnya jika penyelidikan masih berjalan," ucapnya.
Sementara itu, pejabat senior Komisi Penerbangan Antarwilayah Rusia, Viktor Sorochenko menuturkan pesawat hancur patah saat masih mengudara. "Disintegrasi pesawat terjadi di udara dan pecahannya tersebar di area yang sangat luas," sebut Viktor seperti dikutip kantor berita Rusia, RIA-Novosti.
Faktanya, tidak ada panggilan darurat yang diterima dari pilot dan puing pesawat yang ditemukan tersebar dalam area yang sangat luas memunculkan berbagai spekulasi soal penyebab jatuhnya pesawat. Mulai dari serangan rudal, kemudian ledakan bom di dalam pesawat, hingga kegagalan struktural.
Militan di Sinai yang berafiliasi dengan Islamic State of Iraq and Syria (ISIS) mengklaim telah menembak jatuh pesawat sebagai balasan intervensi militer Rusia melawan ISIS di Suriah. Klaim ini diragukan Mesir dan Suriah, karena pesawat ada di ketinggian 9 ribu meter saat hilang kontak sehingga tidak mungkin ditembak dari daratan. Ditambah, hasil analisis awal terhadap rekaman penerbangan menunjukkan pesawat tidak diserang dari luar.
(nvc/mad)











































