Disampaikan pelaksana tugas Direktur Pusat Penanggulangan Krisis Nasional pada Kementerian Urusan Darurat Rusia, Alexei Smirnov, seperti dilansir Interfax, Selasa (3/11/2015), bahwa sekitar 140 jasad korban telah dibawa ke St Petersburg, Rusia, untuk menjalani proses identifikasi.
"Hingga hari ini, 140 jasad korban dan lebih dari 100 bagian tubuh korban tewas telah dibawa ke St Petersburg," tutur Smirnov dalam pertemuan komisi pemerintah untuk penanganan insiden pesawat Metrojet.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Secara terpisah, Wakil Gubernur St Petersburg, Igor Albin menyatakan informasi senada, yakni sembilan jasad korban telah teridentifikasi dalam 24 jam terakhir. Proses identifikasi dilakukan di sebuah krematorium di wilayah St Petersburg, yang merupakan kota terbesar kedua di Rusia.
Keluarga korban dan otoritas setempat menunggu proses identifikasi (REUTERS/Peter Kovalev) |
Upaya identifikasi korban melibatkan banyak pihak, mulai dari pakar forensik hingga paramedis setempat. "Sedikitnya 40 pakar forensik kini bekerja (melakukan identifikasi) di St Petersburg," ucap Wakil Menteri Kesehatan Rusia Igor Kagramanyan seperti dilansir kantor berita ITAR-TASS.
Lima tim ambulans siaga di lokasi tempat identifikasi dilakukan. Satu tim terdiri atas beberapa dokter, perawat dan juga psikolog. Setelah teridentifikasi, jasad korban tidak akan langsung diserahkan kepada keluarganya. Otoritas setempat menyebut, masih ada beberapa prosedur lain yang harus dilakukan setelah proses identifikasi, tanpa menjelaskan lebih lanjut.
Total 224 orang tewas saat pesawat jenis Airbus A-321 jatuh di Sinai Utara, Mesir, pada Sabtu (31/10). Jumlah tersebut terdiri atas 217 penumpang dan tujuh awak pesawat. Sebagian besar penumpang merupakan warga negara Rusia, dengan empat orang lainnya berkewarganegaraan Ukraina dan satu orang lainnya berasal dari Belarusia.
Keluarga korban saling menenangkan satu sama lain (REUTERS/Peter Kovalev) |












































Keluarga korban dan otoritas setempat menunggu proses identifikasi (REUTERS/Peter Kovalev)
Keluarga korban saling menenangkan satu sama lain (REUTERS/Peter Kovalev)