Satelit AS Deteksi Kilatan Panas di Sinai Saat Pesawat Rusia Jatuh

Satelit AS Deteksi Kilatan Panas di Sinai Saat Pesawat Rusia Jatuh

Novi Christiastuti - detikNews
Selasa, 03 Nov 2015 11:36 WIB
Satelit AS Deteksi Kilatan Panas di Sinai Saat Pesawat Rusia Jatuh
Foto: REUTERS/Mohamed Abd El Ghany
Washington - Sebuah satelit Amerika Serikat diketahui tengah mengorbit di atas wilayah Sinai, Mesir ketika pesawat maskapai Rusia, Metrojet, jatuh. Satelit ini dilaporkan mendeteksi adanya kilatan panas pada saat yang sama ketika pesawat Rusia itu jatuh.

Informasi ini disampaikan seorang pejabat AS yang memahami penyelidikan, seperti dilansir CNN, Selasa (3/11/2015). Menurut pejabat yang enggan disebut namanya ini, intelijen dan militer AS tengah menganalisis data satelit ini untuk menentukan apakah kilatan panas itu terjadi di udara atau di daratan.

Analisis ini juga dimaksudkan untuk mencari tahu apakah data satelit ini bisa membantu penyelidikan, demi mengetahui apa yang sebenarnya terjadi pada pesawat jenis Airbus A-321 ini. Penyelidikan penyebab jatuhnya pesawat masih dilakukan otoritas Rusia, Mesir dengan dibantu Jerman dan Prancis.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Para pakar menyebut kilatan panas yang terdeteksi satelit bisa dipicu oleh berbagai hal. Misalnya, rudal yang ditembakkan ke udara, adanya ledakan bom, juga ledakan mesin yang gagal berfungsi, serta gangguan struktural yang memicu kebakaran di pesawat atau saat badan pesawat menghantam daratan.

"Jumlah pertanda (kilatan) panas cukup krusial. Jika, faktanya, hanya satu (kilatan panas) yang terdeteksi, maka ini menjauhkan dari dugaan peluncuran rudal dan lebih mendekati dugaan ledakan di dalam pesawat," sebut pakar penerbangan CNN, Miles O'Brien.

Otoritas Rusia sebelumnya menyatakan pesawat tersebut hancur saat masih mengudara pada Sabtu (31/10). Sedangkan otoritas penerbangan sipil Mesir menyebut, pesawat berada di ketinggian 9.400 meter saat menghilang dari radar, sekitar 23 menit usai lepas landas dari Sinai. Pakar penerbangan CNN lainnya, Peter Goelz, menyebut indikasi pesawat hancur saat di udara bisa membantu mempersempit dugaan penyebab jatuhnya pesawat.

"Ini membantu sedikit mempersempit, tapi masih ada sejumlah isu yang bisa mempengaruhi pesawat ini. Dan terorisme belum bisa dikesampingkan," sebut Goelz, yang pernah menjabat Direktur Operasional Badan Keselamatan Transportasi Nasional AS (NTSB).

Goelz menyebut, hancurnya pesawat di udara bisa dipicu gangguan dalam pesawat itu sendiri. "Semacam gangguan yang memicu malapetaka, mungkin disebabkan oleh gangguan pemeliharaan sebelumnya. Bisa jadi tangki bahan bakar yang meledak," imbuhnya. (nvc/ita)


Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini