Informasi ini disampaikan seorang pejabat AS yang memahami penyelidikan, seperti dilansir CNN, Selasa (3/11/2015). Menurut pejabat yang enggan disebut namanya ini, intelijen dan militer AS tengah menganalisis data satelit ini untuk menentukan apakah kilatan panas itu terjadi di udara atau di daratan.
Analisis ini juga dimaksudkan untuk mencari tahu apakah data satelit ini bisa membantu penyelidikan, demi mengetahui apa yang sebenarnya terjadi pada pesawat jenis Airbus A-321 ini. Penyelidikan penyebab jatuhnya pesawat masih dilakukan otoritas Rusia, Mesir dengan dibantu Jerman dan Prancis.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Jumlah pertanda (kilatan) panas cukup krusial. Jika, faktanya, hanya satu (kilatan panas) yang terdeteksi, maka ini menjauhkan dari dugaan peluncuran rudal dan lebih mendekati dugaan ledakan di dalam pesawat," sebut pakar penerbangan CNN, Miles O'Brien.
Otoritas Rusia sebelumnya menyatakan pesawat tersebut hancur saat masih mengudara pada Sabtu (31/10). Sedangkan otoritas penerbangan sipil Mesir menyebut, pesawat berada di ketinggian 9.400 meter saat menghilang dari radar, sekitar 23 menit usai lepas landas dari Sinai. Pakar penerbangan CNN lainnya, Peter Goelz, menyebut indikasi pesawat hancur saat di udara bisa membantu mempersempit dugaan penyebab jatuhnya pesawat.
"Ini membantu sedikit mempersempit, tapi masih ada sejumlah isu yang bisa mempengaruhi pesawat ini. Dan terorisme belum bisa dikesampingkan," sebut Goelz, yang pernah menjabat Direktur Operasional Badan Keselamatan Transportasi Nasional AS (NTSB).
Goelz menyebut, hancurnya pesawat di udara bisa dipicu gangguan dalam pesawat itu sendiri. "Semacam gangguan yang memicu malapetaka, mungkin disebabkan oleh gangguan pemeliharaan sebelumnya. Bisa jadi tangki bahan bakar yang meledak," imbuhnya. (nvc/ita)










































