Jimmy Morales, dari Pelawak Menjadi Presiden Guatemala

Jimmy Morales, dari Pelawak Menjadi Presiden Guatemala

Novi Christiastuti - detikNews
Senin, 26 Okt 2015 13:30 WIB
Jimmy Morales, dari Pelawak Menjadi Presiden Guatemala
Jimmy Morales (REUTERS/Jose Cabezas)
Guatemala City - Kemenangan telak mantan komedian Jimmy Morales dalam pemilu presiden Guatemala mengejutkan banyak pihak. Awalnya dia hanya memperoleh 0,5 persen dukungan, namun kini meraup 70 persen suara rakyat dan menang melawan politikus berpengalaman.

Morales yang lahir pada 18 Maret 1969 ini dikenal publik Guatemala sebagai anak koboi dari desa yang nyaris menjadi presiden dalam film tahun 2007 berjudul "Seorang Presiden dalam Sombrero". Demikian seperti dilansir Reuters dan AFP serta media lokal Prensa Latina, Senin (26/10/2015).

Di kehidupan nyata, pencalonan diri dalam pemilu presiden ini merupakan pertama kalinya Morales terjun ke dunia politik. Meskipun sebelumnya dia pernah mencalonkan diri dalam pemilihan walikota untuk kota asalnya, Guatemala City pada tahun 2011, namun gagal.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Morales yang pernah pernah belajar teologia ini bergelar sarjana Administrasi Bisnis dari Universidad de San Carlos de Guatemala. Dia dijuluki sebagai orang luar politik karena tidak memiliki pengalaman politik dalam pencapresan ini. Selama kampanye, dia menampilkan sosok yang rendah hati dan menggunakan leluconnya dari acara televisi yang dijalaninya selama 14 tahun, untuk menarik perhatian pemilih.

Popularitas Morales mulai menanjak setelah Presiden Otto Perez terseret skandal korupsi dan mengundurkan diri, hingga akhirnya ditangkap. Dengan slogannya 'bukan koruptor, bukan pencuri', Morales mulai mencuat dalam polling jelang pemilu. Slogan Morales ini sesuai dengan kemarahan rakyat Guatemala atas skandal korupsi yang menumbangkan Presiden Otto Perez.

Namun dia sempat diremehkan oleh lawan-lawan politiknya. Kandidat Partai Harapan Persatuan Nasional, Sandra Torres menyatakan, Guatemala membutuhkan seseorang dengan pengalaman untuk memimpin negara ini. "Guatemala bukan sebuah komedi," ucap Torres dalam kampanyenya sembari menyindir Morales yang berlatar belakang komedian.

Dalam kampanyenya, Morales berjanji akan membuat pengeluaran pemerintah transparan, juga berjanji menegakkan institusi pemerintah yang bersih dan juga menggelar audit. Dia juga berjanji menambah anggaran Jaksa Agung dan memperbarui mandat Komisi Melawan Impunitas di Guatemala (CICIG), yang menyelidiki korupsi yang menyeret mantan Presiden Perez.

Yang paling utama, Morales berjanji akan memberantas korupsi sesuai dengan mandat rakyat Guatemala. Namun dia akan menghadapi perlawanan politik kuat di parlemen, karena Partai Front Konvergensi Nasional (FCN) yang menaunginya hanya mendapat 11 kursi dari total 158 kursi di parlemen Guatemala.

Dalam pemilu putaran pertama yang digelar 6 September, Morales meraih suara terbanyak 24 persen, yang kemudian lolos ke putaran kedua. Melawan Torres, Morales kembali meraup suara mayoritas nyaris 70 persen dalam putaran kedua yang digelar 25 Oktober. Kemenangan ini cukup luar biasa mengingat pada April lalu, Morales hanya memperoleh 0,5 persen dukungan dalam polling. (nvc/ita)


Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini