"Apa yang kita hadapi ini bukanlah krisis pengungsi," tutur Orban dalam pidatonya di depan Kongres Partai Rakyat Eropa, yang merupakan gabungan partai-partai konservatif dari berbagai negara Uni Eropa.
"Ini gerakan migrasi yang terdiri diri migran ekonomi, pengungsi dan juga pejuang-pejuang asing. Ini proses tak terkendali dan tidak diatur," imbuhnya dalam pidatonya di Madrid, Spanyol seperti dilansir kantor berita AFP, Jumat (23/10/2015).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sekitar 600 ribu orang, kebanyakan pengungsi dari Suriah, telah tiba di Eropa tahun ini. Banyak dari mereka yang menuju Jerman dan Swedia.
Menghadapi gelombang migrasi terbesar Eropa sejak Perang Dunia II ini, pemerintah Hungaria membangun pagar besi di sepanjang perbatasannya dengan Serbia dan Kroasia. Langkah ini menuai tanggapan beragam dari para pemimpin Eropa.
Orban mengkritik media yang selalu menunjukkan bahwa para pengungsi terdiri dari kaum wanita dan anak-anak, padahal yang sebenarnya banyak juga pria-pria muda.
"Kita tak bisa menghindari untuk bicara tentang kualitas demokrasi kita," tutur Orban. "Apakah itu sesuai dengan kebebasan informasi dan berbicara bahwa media biasanya menunjukkan kaum wanita dan anak-anak sementara 70 persen migran itu merupakan pria-pria muda dan mereka kelihatan seperti tentara?" cetusnya.
"Hanya karena kita tidak menganggap mereka sebagai musuh, kita tak bisa mengambil tindakan. Tanggungn jawab moral kita adalah memulangkan kembali orang-orang ini ke rumah-rumah dan negara-negara mereka," tandas Orban.
(ita/ita)











































