Duh! Rusia Bombardir Rumah Sakit Darurat di Suriah, 13 Orang Tewas

Duh! Rusia Bombardir Rumah Sakit Darurat di Suriah, 13 Orang Tewas

Rita Uli Hutapea - detikNews
Kamis, 22 Okt 2015 11:51 WIB
Duh! Rusia Bombardir Rumah Sakit Darurat di Suriah, 13 Orang Tewas
serangan Rusia di Suriah (Foto: REUTERS/Khalil Ashawi)
Damaskus, - Pesawat-pesawat tempur Rusia membombardir sebuah rumah sakit darurat di Suriah. Akibatnya, 13 orang tewas termasuk paramedis.

Kelompok pemantau HAM Suriah, Syrian Observatory for Human Rights mengatakan, serangan udara itu mengenai sebuah klinik darurat di kota Sarmin pada Selasa (20/10) sekitar pukul 13.00 waktu setempat.

"13 Orang tewas dalam serangan udara Rusia ke sebuah klinik darurat di kota Sarmin, termasuk seorang fisioterapis, seorang penjaga, dan anggota pertahanan sipil," tutur kepala Observatory, Rami Abdel Rahman seperti dikutip kantor berita AFP, Kamis (22/10/2015).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Kota Sarmin berada di provinsi Idlib, yang kerap menjadi target serangan udara militer Rusia sejak awal kampanye udaranya di Suriah pada 30 September.

Klinik tersebut dikelola oleh organisasi Masyarakat Medis Suriah-Amerika (SAMS). Para staf organisasi tersebut membenarkan bahwa serangan udara Rusia telah menyebabkan kerusakan parah pada fasilitas tersebut.

"Laporan awal kami dari lapangan menunjukkan bahwa kami telah kehilangan dua staf rumah sakit, seorang fisioterapis dan seorang perawat," demikian disampaikan seorang staf SAMS.

Kementerian Luar Negeri Rusia pada Rabu (21/10) mengkonfirmasi bahwa militernya telah menargetkan Sarmin, namun tidak disebutkan soal rumah sakit darurat itu.

Rusia sejauh ini telah melancarkan lebih dari 500 serangan udara di Suriah. Moskow menyatakan, serangan-serangan udara tersebut menargetkan kelompok ISIS dan para teroris lainnnya. Namun Moskow dikecam karena serangan-serangannya menimbulkan korban jiwa warga sipil.

Menurut Observatory, setidaknya 370 orang telah tewas akibat serangan udara Rusia di Suriah. Di antara jumlah itu, sebanyak 127 orang di antaranya merupakan warga sipil. (ita/ita)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads