Seperti dilansir AFP, Senin (19/10/2015), tembok ini secara efektif akan memisahkan wilayah Jabel Mukaber yang dihuni warga Palestina dengan wilayah Armon Hanatziv yang dihuni warga Yahudi. Hal ini memicu kritikan dari kalangan oposisi Israel karena dianggap sebagai upaya memecah-belah Yerusalem.
"(Perdana Menteri Benjamin) Netanyahu secara resmi membagi Yerusalem hari ini. Netanyahu kehilangan kemampuan untuk menjaga keselamatan warga Israel dan persatuan Yerusalem," demikian pernyataan Zionist Union yang merupakan partai kiri tengah oposisi koalisi Netanyahu.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
REUTERS/Amir Cohen |
Huruf cetak hitam dalam bahasa Ibrani yang ada di bagian bawah lempengan tembok ini bertuliskan 'pembatas polisi portabel sementara'. Otoritas setempat menyatakan lempengan-lempengan ini akan menutupi kawasan sepanjang 300 meter.
Menurut otoritas Israel, pendirian tembok pembatas ini bukan langkah utama untuk menangkal kekerasan, melainkan karena wilayah itu rawan konflik. "Ada sejarah pelemparan batu dan bom molotov kepada rumah-rumah dan mobil warga Yahudi," sebutnya
Jabel Mukaber menjadi lokasi rawan konflik di mana 42 warga Palestina dan 7 warga Israel tewas dalam serangkaian kekerasan beberapa minggu terakhir. Tiga warga Palestina di wilayah tersebut membunuh tiga warga Israel dalam dua serangan terpisah di Yerusalem pekan lalu, sebelum akhirnya ketiga warga Palestina itu ditembak mati tentara Israel.
REUTERS/Amir Cohen |












































REUTERS/Amir Cohen
REUTERS/Amir Cohen