"Kami menganggap aksi-aksi keras yang kita bicarakan secara spesifik di sini sebagai aksi-aksi teror," kata juru bicara Departemen Luar Negeri AS John Kirby seperti dilansir kantor berita AFP, Sabtu (10/10/2015).
"Penikaman, penembakan, ya terorisme," imbuhnya. Namun Kirby tidak mau menyebut apakah serangan balasan oleh warga Yahudi yang melukai dua warga Palestina dan dua warga Arab juga merupakan terorisme.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Saya tak punya detail soal itu, jadi saya sebaiknya tidak membahas kejadian per kejadian," tutur Kirby.
"Namun kami menganggap aksi-aksi kekerasan yang telah kita lihat ini -- penusukan dan pembunuhan di sana, khususnya di Yerusalem timur -- sebagai teror," ujar Kirby.
"Semua kekerasan perlu dihentikan dan ketenangan harus dipulihkan," tandasnya.
Telah terjadi 13 insiden penikaman sejak Sabtu (3/10) lalu, termasuk kejadian di Dimona, di tengah bentrokan-bentrokan yang terjadi antara pasukan Israel dan warga Palestina. Bentrokan terbaru terjadi pada Jumat, 9 Oktober kemarin di Gaza, di mana pasukan Israel melepas tembakan hingga menewaskan enam warga Palestina -- termasuk seorang remaja berumur 15 tahun -- dan melukai sekitar 80 orang lainnya.
(ita/ita)











































