Seperti dilansir Reuters, Jumat (9/10/2015), Gambo yang masih berusia 19 tahun ini merupakan salah satu dari 769 korban tewas dalam tragedi memilukan yang terjadi Mina, Saudi pada 24 September lalu. Nyaris dua minggu setelah tragedi itu, lebih dari 50 pelayat berkumpul di luar kediaman keluarga Gambo. Perjalanan haji ke Saudi merupakan perjalanan ke luar negeri yang pertama kali dilakukan Gambo sepanjang hidupnya.
"Sungguh mengejutkan. Saya merasa trauma, bingung dan sangat kosong. Kematiannya meninggalkan celah besar yang tidak akan bisa pernah terisi," ucap ayah Gambo, Mallam Sallau Gambo dengan suara bergetar.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Ayah Gambo menuturkan keluarga mulai khawatir ketika Gambo tidak memberi kabar pada 24 September malam, untuk menceritakan perjalanannya. Gambo menjalankan ibadah haji bersama saudaranya yang tinggal di Saudi, Abubakar. Saat tragedi Mina terjadi, Abubakar terpisah dengan Gambo. Selama seminggu, Abubakar mencari keberadaan Gambo di Mina hingga akhirnya berujung penemuan jenazah Gambo di salah satu rumah sakit di Mina.
"Saya berusaha menenangkannya (Abubakar) di telepon, tapi saya tidak bisa menahan air mata saya," kenang Mallam Sallau.
Ibunda Gambo masih shock dan tidak bisa membahas soal putranya yang sudah meninggal dunia. Oleh kerabat dan temannya, Gambo dikenal sebagai santri yang rajin dan pekerja keras. Dia memenangkan tiket ibadah haji, sebuah mobil dan juga uang tunai karena meraih juara kedua dalam kompetisi nasional membaca Alquran.
Tahun 2012 lalu, ayah Gambo membawa keluarga meninggalkan Maiduguri ketika Boko Haram mengancam akan merekrut putra-putranya dan menculik anak perempuannya. Mereka yang melawan akan dibunuh. Keluarga ini mengungsi ke kota Kaduna setelah merasa lebih aman. (nvc/ita)











































