237 Orang Tewas Akibat Longsor Guatemala, Pencarian Terus Dilakukan

237 Orang Tewas Akibat Longsor Guatemala, Pencarian Terus Dilakukan

Novi Christiastuti - detikNews
Jumat, 09 Okt 2015 11:13 WIB
237 Orang Tewas Akibat Longsor Guatemala, Pencarian Terus Dilakukan
Foto: REUTERS/Jose Cabezas
Guatemala City - Korban tewas akibat bencana tanah longsor yang melanda Guatemala terus bertambah. Sejauh ini, petugas penyelamat telah menemukan 237 jasad korban tewas dari timbunan longsor yang menyapu desa kecil dekat ibukota Guatemala City, seminggu lalu.

Seperti dilansir AFP, Jumat (9/10/2015), juru bicara kantor jaksa umum setempat, Julia Barrera menuturkan, sedikitnya 237 jenazah korban telah ditemukan dalam upaya pencarian yang terus dilakukan. Sedangkan sekitar 150 orang lainnya masih dinyatakan hilang akibat tanah longsor ini.

Longsor yang terjadi pada 1 Oktober lalu, menerjang desa kecil El Cambray II di wilayah Santa Catarina Pinula, yang berjarak sekitar 15 kilometer dari ibukota Guatemala City. Ratusan rumah warga tertimbun lumpur dan puing-puing longsor yang dipicu oleh hujan deras.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Relawan pemadam kebakaran setempat, Julio Sanchez menuturkan kepada AFP, upaya pencarian akan terus dilanjutkan dan dibantu dengan anjing pelacak yang terlatih. Namun petugas penyelamat menyadari kecilnya kemungkinan untuk menemukan korban selamat dari balik timbunan longsor.

Sanchez menuturkan, bau busuk dari jasad korban yang mulai tercium memaksa petugas penyelamat untuk menggunakan masker dan alat pernapasan. Para petugas penyelamat diberi vaksin hepatitis dan tetanus untuk melindungi mereka dari penyebaran penyakit.

Kantor jaksa setempat telah memulai penyelidikan mendalam atas bencana longsor ini. Mereka berusaha mencari tahu apakah ada keterlibatan tindak kriminal yang memicu bencana ini.

Jauh sebelum longsor terjadi, otoritas setempat beberapa kali meminta warga setempat untuk direlokasi karena kondisi tanah yang rawan. Desa yang diterjang longsor ini berada di dasar jurang. Disebutkan bahwa beberapa warga menolak untuk direlokasi oleh otoritas setempat. (nvc/ita)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads