Seperti dilansir AFP, Jumat (9/10/2015), juru bicara kantor jaksa umum setempat, Julia Barrera menuturkan, sedikitnya 237 jenazah korban telah ditemukan dalam upaya pencarian yang terus dilakukan. Sedangkan sekitar 150 orang lainnya masih dinyatakan hilang akibat tanah longsor ini.
Longsor yang terjadi pada 1 Oktober lalu, menerjang desa kecil El Cambray II di wilayah Santa Catarina Pinula, yang berjarak sekitar 15 kilometer dari ibukota Guatemala City. Ratusan rumah warga tertimbun lumpur dan puing-puing longsor yang dipicu oleh hujan deras.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sanchez menuturkan, bau busuk dari jasad korban yang mulai tercium memaksa petugas penyelamat untuk menggunakan masker dan alat pernapasan. Para petugas penyelamat diberi vaksin hepatitis dan tetanus untuk melindungi mereka dari penyebaran penyakit.
Kantor jaksa setempat telah memulai penyelidikan mendalam atas bencana longsor ini. Mereka berusaha mencari tahu apakah ada keterlibatan tindak kriminal yang memicu bencana ini.
Jauh sebelum longsor terjadi, otoritas setempat beberapa kali meminta warga setempat untuk direlokasi karena kondisi tanah yang rawan. Desa yang diterjang longsor ini berada di dasar jurang. Disebutkan bahwa beberapa warga menolak untuk direlokasi oleh otoritas setempat. (nvc/ita)











































