Marah, Presiden Turki Ancam Putuskan Kerjasama Energi dengan Rusia

Marah, Presiden Turki Ancam Putuskan Kerjasama Energi dengan Rusia

Novi Christiastuti - detikNews
Kamis, 08 Okt 2015 17:18 WIB
Marah, Presiden Turki Ancam Putuskan Kerjasama Energi dengan Rusia
Recep Tayyip Erdogan (detikcom/Agung Pambudhy)
Ankara - Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan marah atas pelanggaran wilayah udara yang dilakukan pesawat tempur Rusia akhir pekan lalu. Erdogan memperingatkan Rusia soal kerjasama sektor energi antara kedua negara.

Turki tengah melakukan kerjasama gas alam dengan Rusia dalam upaya pembangunan pembangkit nuklir pertama negara tersebut. Namun akhir pekan lalu, pesawat tempur milik Rusia yang tengah menjalankan misi militer Suriah, kedapatan masuk ke wilayah udara Turki dalam dua waktu berbeda.

Jet tempur F-16 milik Turki dikerahkan untuk mengusir pesawat Rusia itu, namun jet tempur Turki malah dipermalukan oleh sistem rudal Suriah. Atas insiden ini, Rusia dalam tanggapannya menyebut pesawat tempur miliknya tidak sengaja masuk ke Turki karena cuaca buruk.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Kami tidak bisa menerima situasi saat ini. Penjelasan Rusia soal pelanggaran wilayah udara sangat tidak meyakinkan," tegas Presiden Erdogan kepada wartawan sebelum terbang ke Jepang seperti dikutip surat kabar Turki, Sabah dan dilansir Reuters, Kamis (8/10/2015).

Serangan udara Rusia dimaksudkan untuk mendukung pasukan militer Presiden Bashar al-Assad. Intervensi Rusia ini mengubah keseimbangan kekuatan dalam konflik Suriah dan menjadi pukul bagi Turki yang selama ini menyerukan Presiden Assad mundur dari jabatannya.

Namun selain melontarkan protes kepada Rusia, hanya sedikit yang bisa dilakukan Turki. Terlebih Rusia merupakan penyuplai gas alam terbesar untuk Turki. Setiap tahun, sekitar 28-30 miliar meter kubik (bcm) dari total 50 bcm kebutuhan gas alam Turki dibeli dari Rusia. Suplai gas alam lainnya didapat dari Iran dan Azerbaijan serta Turkmenistan.

Selain itu, Turki juga menugaskan perusahaan negara Rusia, Rosatom sejak tahun 2013 lalu untuk membangun empat reaktor nuklir dalam proyek senilai US$ 20 miliar. Proyek ini merupakan bagian dari upaya nuklir membangun pembangkit listrik tenaga nuklir pertamanya.

"Ini merupakan persoalan yang harus dipikirkan Rusia. Jika Rusia tidak membangun Akkuyu (pembangkit nuklir) yang lain akan datang dan membangunnya. Kami merupakan konsumen gas alam nomor satu Rusia. Kehilangan Turki akan menjadi kehilangan besar bagi Rusia. Jika diperlukan, Turki bisa mendapat suplai gas alam dari banyak tempat lainnya," ucap Erdogan. Belum ada komentar dari Rusia atas pernyataan Presiden Erdogan ini. (nvc/ita)


Berita Terkait