AS Sebut 90 Persen Serangan Rusia di Suriah Tak Targetkan ISIS

AS Sebut 90 Persen Serangan Rusia di Suriah Tak Targetkan ISIS

Novi Christiastuti - detikNews
Kamis, 08 Okt 2015 10:42 WIB
AS Sebut 90 Persen Serangan Rusia di Suriah Tak Targetkan ISIS
Dampak serangan Rusia di wilayah Suriah (REUTERS/Khalil Ashawi)
Washington - Amerika Serikat masih bersikeras bahwa 90 persen serangan udara Rusia di Suriah tidak menargetkan militan radikal Islamic State of Iraq and Syria (ISIS) maupun Al-Qaeda. AS menyebut Rusia sengaja menyerang oposisi moderat Suriah.

"Lebih dari 90 persen serangan yang selama ini kita lihat mereka lakukan, tidak ditargetkan terhadap ISIL (nama lain ISIS) atau teroris afiliasi Al-Qaeda," ucap juru bicara Departemen Luar Negeri AS, John Kirby seperti dilansir AFP, Kamis (8/10/2015).
Β 
"Sebagian besar serangan mereka mengenai kelompok oposisi yang menginginkan masa depan lebih baik bagi Suriah dan tidak ingin rezim Assad (Presiden Suriah Bashar al-Assad) tetap berkuasa," imbuhnya.

Ini merupakan pertama kalinya otoritas AS memberikan penghitungan spesifik terkait dampak serangan udara Rusia di wilayah Suriah. Tudingan ini muncul setelah Rusia mulai membombardir sejumlah wilayah Suriah. Rusia mengaku menargetkan seluruh kelompok militan di Suriah, termasuk ISIS.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

AS yang mendukung kelompok oposisi moderat Suriah, menegaskan bahwa serangan Rusia hanya akan memperburuk konflik dan menguntungkan rezim Assad. "Jadi, apakah mereka diserang rudal jelajah dari laut atau bom dari pesawat tempur Rusia, hasilnya tetap sama, bahwa Assad akan terus mendapat dukungan dari Rusia," imbuh Kirby.

"Assad akan terus memiliki kemampuan menyerang rakyatnya sendiri, termasuk mereka yang melawan rezimnya. Dan ini tidak akan menjadi masa depan yang baik bagi Suriah. Ini juga, seperti yang kami katakan sebelumnya, kami meyakininya sebagai sebuah kesalahan dari Rusia, karena mereka tidak hanya akan memperburuk ketegangan sektarian di Suriah, tapi juga berpotensi memperburuk ketegangan sektarian di Rusia," jelasnya.

"Mereka (Rusia-red) menempatkan diri mereka pada risiko besar," tandas Kirby. (nvc/ita)


Berita Terkait