Donald Trump Sebut Rusia Jatuh ke Dalam Jebakan Suriah

Donald Trump Sebut Rusia Jatuh ke Dalam Jebakan Suriah

Novi Christiastuti - detikNews
Senin, 05 Okt 2015 17:30 WIB
Donald Trump Sebut Rusia Jatuh ke Dalam Jebakan Suriah
Donald Trump (Forbes)
Washington - Bakal calon presiden Amerika Serikat dari Partai Republik, Donald Trump ikut mengomentari keterlibatan Rusia dalam konflik Suriah. Trump mengaku dirinya hanya ingin duduk dan melihat Rusia jatuh ke jebakan Suriah, dengan terus melancarkan serangan udara di wilayah Suriah.

Dalam wawancara di program acara televisi setempat, ABC 'This Week', Trump menyatakan dirinya tidak akan mengusulkan zona larangan terbang (no-fly zone) di Suriah, seperti diusulkan beberapa kandidat lainnya termasuk kandidat Demokrat, Hillary Clinton.

"Saya pikir yang ingin saya lakukan adalah saya ingin duduk dan... melihat apa yang terjadi," tutur Trump seperti dilansir AFP, Senin (5/10/2015).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Trump pun menyinggung perang Uni Soviet pada tahun 1980-an silam melawan pemberontak mujahidin Afghanistan yang memicu kehancuran pada blok komunis Soviet. Trump menyebut serangan udara Rusia di Suriah bisa menjadi jebakan yang menghancurkan Rusia sendiri.

"Sekarang mereka pergi ke Suriah, ada banyak sekali jebatan, ada banyak sekali masalah. Ketika saya mendengar mereka akan bertempur melawan ISIS (Islamic State of Iraq and Syria), saya mengatakan, 'Bagus, biarkan saja mereka'," ucap miliarder real estate ini.

Rusia melancarkan serangan udara di wilayah Suriah sejak pekan lalu. Dalam pernyataannya, Rusia bersikeras bahwa serangan mereka menargetkan seluruh militan di Suriah termasuk ISIS. Namun negara-negara Barat, terutama AS menuding Rusia sengaja menargetkan kelompok oposisi yang selama ini melawan rezim Presiden Bashar al-Assad, sekutu Rusia.

Dalam wawancara terpisah dengan acara televisi NBC 'Meet the Press', Trump menyebut situasi Timur Tengah akan lebih baik jika kekuasaan Presiden Assad lebih kuat dari saat ini. Trump juga menyampaikan keyakinannya bahwa situasi akan lebih baik jika Muammar Khadafi masih berkuasa di Libya dan Saddam Hussein masih memimpin Irak.

"Tentu akan lebih baik. Libya kini bukan lagi sebuah negara. Bahkan tidak perlu diperdebatkan... Irak dipenuhi bencana," sebutnya. (nvc/ita)


Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini