Akhir pekan kemarin, dua warga Israel tewas akibat serangan yang dilakukan seorang warga Palestina yang disebut sebagai anggota militan setempat. Pelaku juga melukai seorang wanita dan bayinya dalam serangan yang melibatkan pisau dan senjata api di Old City.
"Merujuk pada serangan mematikan terhadap keluarga Israel di Tepi Barat dan menyoroti gelombang ekstremisme serta kekerasan di wilayah tersebut, Sekretaris Jenderal menyampaikan kekhawatiran mendalam bahwa insiden-insiden ini menjadi penanda bahaya semakin meluasnya serangan serupa," demikian pernyataan Sekjen Ban seperti dilansir AFP, Senin (5/10/2015).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Mendorong seluruh pemimpin untuk mengecam kekerasan dan penghasutan semacam ini, serta tetap tenang dan melakukan segala hal sesuai kemampuan untuk menghindari meluasnya serangan semacam ini," demikian imbuh pernyataan itu.
Serangan di Old City ini terjadi selang beberapa hari setelah penembakan pasangan suami-istri Israel di Tepi Barat. Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu yang baru kembali dari AS pada Minggu (4/10), langsung menggelar rapat dengan Menteri Pertahanan Moshe Yaalon. Jajaran keamanan kabinet Israel dikabarkan akan menggelar rapat pada Senin (5/10) waktu setempat.
Sementara itu, dilansir BBC, bahwa otoritas Israel melarang warga Palestina untuk masuk ke dalam wilayah Yerusalem Timur dan memasuki Old City selama dua hari sebagai dampak dari serangan itu. Larangan ini membuat warga Palestina tidak bisa memasuki Old City kecuali jika mereka tinggal di sana. Namun larangan ini tidak berlaku bagi warga Israel, pemilik usaha setempat dan anak-anak sekolah. (nvc/ndr)










































